Pada dini hari Jumat, 22 November 2024, sebuah kejadian mengejutkan mengguncang Sumatera Barat, tepatnya di area parkir Mapolres Solok Selatan, Jorong Bukit Malintang Barat, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir. Insiden ini melibatkan dua perwira polisi, yakni AKP Dadang Iskandar dan AKP Ulil Ryanto Anshari. AKP Dadang Iskandar, yang menjabat sebagai Kabag Ops Polres Solok Selatan, diduga menembak mati rekannya, AKP Ulil Ryanto Anshari, yang merupakan Kasat Reskrim Polres Solok Selatan.
Tragedi ini berawal ketika AKP Ulil Ryanto Anshari berhasil menangkap pelaku tambang galian C yang diduga beroperasi secara ilegal. Usai penangkapan tersebut, AKP Ulil menerima panggilan dari AKP Dadang Iskandar untuk kembali ke Mapolres Solok Selatan. Setibanya di lokasi, AKP Ulil Ryanto ditembak di bagian kepala kanan oleh AKP Dadang Iskandar. Peluru yang ditembakkan menembus pelipis dan pipi kanan korban, menyebabkan kematian seketika.
Pasca kejadian, AKP Dadang Iskandar diamankan oleh propam. Dalam penyelidikan, ditemukan sembilan selongsong peluru kaliber sembilan milimeter yang berasal dari pistol jenis HS dengan nomor seri 260139, yang digunakan dalam penembakan tersebut. AKP Dadang Iskandar kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan mengenakan rompi oranye sebagai tanda status hukumnya.
AKP Ulil Ryanto Anshari dikenal sebagai perwira polisi yang berprestasi dan memiliki reputasi baik di kepolisian. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2012 ini memulai kariernya di Brimob Polda Jawa Tengah sebelum dipromosikan menjadi Kasat Reskrim Polres Solok Selatan.
Sementara itu, AKP Dadang Iskandar, yang berusia 57 tahun, diamankan tanpa borgol dan tampak santai saat memberikan keterangan kepada penyidik. Sikapnya yang terlihat tenang dan masih sempat merokok saat dimintai keterangan oleh propam, memicu reaksi keras dari masyarakat.
Sikap AKP Dadang Iskandar yang tidak menunjukkan penyesalan setelah insiden penembakan ini mendapat kecaman dari warganet. Banyak yang menuntut agar pihak kepolisian bertindak tegas dan adil dalam menangani kasus ini, tanpa pandang bulu. Masyarakat berharap agar keadilan ditegakkan dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
Insiden penembakan di Solok Selatan ini menambah daftar panjang kasus kekerasan di tubuh kepolisian yang perlu ditangani dengan serius. Penegakan hukum yang tegas dan transparan diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Kasus ini juga menjadi pengingat akan pentingnya profesionalisme dan integritas dalam menjalankan tugas sebagai penegak hukum.





