Runtuhnya Rezim Bashar Al Assad: Milisi HTS Kuasai Damaskus

Redaksi RuangInfo

Milisi Suriah Hayat Tahrir al Sham (HTS) berhasil menguasai ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Presiden Bashar Al Assad pada Minggu (8/12). Keberhasilan ini menandai berakhirnya kekuasaan Al Assad yang telah berlangsung selama 50 tahun di Suriah. Berikut adalah fakta-fakta penting terkait jatuhnya rezim Assad di Suriah.

Penggulingan rezim Assad oleh milisi HTS terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Hanya berselang 11 hari setelah HTS berhasil merebut kembali kota penting Aleppo pada akhir November, mereka melanjutkan serangan ke kota Hama pada 5 November. Pada sore harinya, tentara Suriah mengakui kehilangan kendali atas kota tersebut, yang terletak di antara Aleppo dan Damaskus. Tiga hari kemudian, tepatnya pada 8 November, milisi HTS berhasil menguasai Damaskus dan menggulingkan rezim Assad.

Setelah resmi digulingkan, Bashar Al Assad segera melarikan diri ke Rusia untuk mencari suaka politik. Ia dilaporkan terbang ke Moskow pada hari yang sama ketika milisi HTS menguasai Damaskus. Rusia, yang dikenal sebagai sekutu lama Suriah, memberikan suaka politik kepada Assad sebagai bentuk solidaritas yang telah terjalin sejak awal 2000-an.

Saat Assad melarikan diri ke Rusia, warga Suriah dilaporkan menjarah rumahnya di istana kepresidenan di Damaskus. Aksi penjarahan ini terjadi pada hari yang sama ketika kelompok pemberontak menguasai ibu kota. Video yang beredar di media sosial menunjukkan warga membawa kabur barang-barang berharga dari rumah Assad, termasuk lukisan mewah, perabotan, peralatan dapur, senjata, dan uang tunai. Selain itu, garasi mobil di bawah rumah Assad juga dijarah, dengan sejumlah mobil mewah seperti Porsche, Mercedes-Benz, Ferrari, Audi, dan SUV berlapis baja diambil oleh warga.

Setelah rezim Assad digulingkan, sejumlah akun media sosial kedutaan besar Suriah di berbagai negara mengganti foto profil mereka dengan bendera kelompok pemberontak. Kedutaan besar Suriah di Indonesia, Malaysia, dan Mesir dilaporkan mengganti foto profil mereka dari bendera Suriah bergaris merah, putih, dan hitam menjadi bendera bergaris hijau, putih, dan hitam dengan tiga bintang merah di tengahnya. Bendera ini digunakan oleh aktivis anti-Assad.

Setelah penggulingan Assad, milisi HTS menunjuk mantan Perdana Menteri Mohammed Ghazi Al Jalali sebagai pemimpin sementara Suriah. Pemimpin HTS, Abu Mohammed Al Julani, menyatakan bahwa Al Jalali akan memimpin negara tersebut hingga pemerintahan baru terbentuk. Al Jalali bertugas mengawasi operasional kementerian dan lembaga negara selama masa transisi. Selama periode ini, pasukan militer di Damaskus dilarang mendekati lembaga negara dan tidak boleh melepaskan tembakan di udara.

Kejatuhan rezim Bashar Al Assad oleh milisi HTS menandai perubahan besar dalam lanskap politik Suriah. Dengan penguasaan Damaskus, HTS menunjukkan kekuatannya dalam menggulingkan rezim yang telah berkuasa selama lima dekade. Peristiwa ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan politik Suriah dan hubungan internasionalnya, terutama dengan sekutu-sekutu lama seperti Rusia. Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Al Jalali akan mengelola transisi menuju pemerintahan baru.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *