Massa Aksi Kamisan kembali menggelar protes di depan Mapolda Jawa Tengah, Semarang, pada Kamis (12/12), menuntut keadilan bagi almarhum Gamma Rizkynata Oktafandy, siswa SMKN 4 Semarang yang tewas akibat tembakan anggota Satres Narkoba Polrestabes Semarang, Aipda Robig Zainudin. Aipda Robig telah diputus etik untuk dipecat, namun ia mengajukan banding. Dalam kasus pidana yang dilaporkan keluarga korban, Aipda Robig telah ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam aksi tersebut, massa juga menuntut pencopotan Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Irwan Anwar. Perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, Fajar M Andika, menyatakan bahwa tuntutan keluarga korban tetap sama, yaitu meminta agar Kapolrestabes Semarang dicopot dari jabatannya karena diduga melakukan manipulasi fakta. “Kapolrestabes Semarang menarasikan Gamma sebagai pelaku tawuran yang melakukan penyerangan sehingga ditembak Aipda Robig,” ujar Fajar.
Fajar menambahkan bahwa investigasi yang dilakukan, diperkuat dengan video CCTV dan sidang etik, menunjukkan bahwa penembakan dilakukan secara sewenang-wenang. “Kami tegaskan tidak ada penyerangan terhadap pelaku,” tegasnya. Massa Aksi Kamisan juga mengecam tindakan Kapolrestabes Semarang yang diduga menutup-nutupi fakta dalam kasus penembakan ini.
Massa menilai Kapolrestabes Semarang melakukan inkonsistensi pernyataan yang membingungkan publik dan sempat mempengaruhi pandangan bahwa korban melakukan penyerangan.
“Faktanya tidak sama sekali,” jelas Fajar. Berdasarkan bukti yang ada, massa menilai layak jika Kapolri mencopot Kapolrestabes Semarang dari jabatannya.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB ini diwarnai dengan puisi dan orasi dari para aktivis. Mereka mengenakan pakaian dan payung hitam, serta membentangkan poster bertuliskan ‘Robig Tidak Bercerita Tiba-tiba Tembak Siswa’, ‘Hukum Berat Polisi Pembunuh’, dan ‘Kerja Polisi Pamer Prestasi, Lupa Evaluasi’. Salah satu pegiat seni asal Semarang, Basa Basuki, turut menyuarakan keresahannya dan mengajak peserta aksi berdoa untuk Gamma.
Koordinator Aksi Kamisan Semarang, Fathul Munif, menuntut agar internal Polri melakukan evaluasi besar-besaran. Ia mengecam tindakan kepolisian yang dianggap menutup-nutupi kesalahan Aipda Robig. “Dalam kasus ini Kapolrestabes terlibat dalam obstruction of justice,” ungkapnya. Aksi ini diharapkan dapat mendorong evakuasi Kapolrestabes Semarang.
Peristiwa penembakan terjadi di Jalan Candi Penataran, Semarang, pada Minggu (24/11) dini hari WIB. Peluru mengenai tiga siswa SMK, yaitu Gamma yang meninggal karena luka di pinggang, A yang terserempet peluru di dada, dan S yang terkena tangan kirinya. Sebelumnya, Kapolrestabes Irwan menyatakan Aipda Robig melepas tembakan untuk melerai tawuran, namun pemeriksaan Propam Polda Jateng menunjukkan sebaliknya.
Keluarga Gamma membantah dugaan keterlibatan korban dengan gangster atau kreak seperti yang ditudingkan Polrestabes Semarang. Dalam rapat dengan Komisi III DPR, Irwan menyatakan permohonan maaf kepada keluarga Gamma dan masyarakat Semarang, serta siap dievaluasi.
“Sepenuhnya saya siap bertanggung jawab, saya siap dievaluasi,” ujar Irwan.
Aksi Kamisan di Semarang menyoroti pentingnya keadilan dan transparansi dalam penanganan kasus penembakan Gamma Rizkynata. Tuntutan pencopotan Kapolrestabes Semarang dan evaluasi internal Polri menjadi fokus utama aksi ini. Dengan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, diharapkan kasus ini dapat diselesaikan dengan adil dan transparan.





