Sejak awal Desember 2024, banjir telah melanda lahan persawahan seluas 1.138,61 hektare di Jawa Timur, menimbulkan kerugian besar bagi para petani. Akibatnya, sekitar 46,40 hektare sawah mengalami gagal panen atau puso. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, menjelaskan bahwa banjir ini disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan dan luapan air sungai.
Beberapa daerah di Jawa Timur mengalami dampak banjir yang signifikan. Di Kabupaten Jombang, banjir merendam 838 hektare lahan persawahan. Sementara itu, di Sidoarjo, tercatat 96 hektare sawah terdampak, dengan 6 hektare mengalami gagal panen. Kabupaten Mojokerto juga tidak luput dari bencana ini, dengan 60,51 hektare sawah terendam dan 1 hektare mengalami puso. Kota Mojokerto lebih parah, dengan 41,90 hektare terdampak dan 40,40 hektare mengalami puso. Di Ngawi, 22 hektare lahan pertanian terkena dampak banjir.
Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2024, banjir telah melanda 1.5842,02 hektare lahan pertanian di Jawa Timur, dengan 1.331,65 hektare mengalami puso. Kabupaten Lamongan menjadi daerah dengan kerugian terparah, di mana 978,80 hektare sawah terendam banjir dan 398,30 hektare mengalami puso.
Heru Suseno menyatakan bahwa petani yang mengalami gagal panen akan mendapatkan ganti rugi melalui Asuransi Usaha Tani Pangan (AUTP). Pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp500 juta untuk kompensasi ini. “Ganti rugi tersebut diberikan kepada petani yang lahannya mengalami kerusakan 70 persen akibat terendam banjir sehingga tidak bisa panen,” jelas Heru.
Setiap petani yang lahannya rusak akan menerima bantuan ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektare.
“Jadi ketika petani mengalami gagal panen, mereka bisa langsung mengklaim untuk mendapatkan ganti rugi,” tambahnya.
Banjir yang melanda Jawa Timur telah memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, mengakibatkan kerugian besar bagi para petani. Dengan adanya kompensasi dari pemerintah, diharapkan dapat meringankan beban para petani yang terdampak. Namun, langkah-langkah pencegahan dan penanganan banjir yang lebih efektif perlu diterapkan untuk menghindari kerugian serupa di masa mendatang.





