Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan niatnya untuk menutup United States Agency for International Development (USAID) sebagai bagian dari strategi pemangkasan anggaran bantuan luar negeri. Langkah ini memicu berbagai reaksi dan kontroversi, mengingat peran vital USAID dalam mendukung negara-negara berkembang dan rentan di seluruh dunia.
Menurut sejumlah sumber, pemerintahan Trump hanya akan mempertahankan 294 staf USAID, termasuk 12 staf di biro Afrika dan delapan di Asia. Padahal, USAID saat ini mempekerjakan lebih dari 10.000 staf di seluruh dunia, dengan sekitar dua pertiga di antaranya berada di luar AS. Beberapa staf bahkan telah mulai menerima pemberitahuan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Trump telah lama mengkritik pengeluaran kebijakan luar negeri AS yang dianggapnya tidak sepadan dengan pemasukan pajak. Dia juga menyebut staf USAID sebagai “orang gila radikal” dan berencana untuk menyingkirkan mereka. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Gedung Putih yang menyatakan bahwa pengeluaran untuk USAID hanya menghambur-hamburkan anggaran negara.
Pada tahun 2023, USAID menerima anggaran sebesar US$72 miliar atau sekitar Rp1.134 triliun, dengan sekitar US$16 miliar di antaranya dikirim ke Ukraina yang sedang berperang dengan Rusia. Gedung Putih merilis pernyataan resmi berjudul
“Di USAID, Pemborosan dan Penyalahgunaan Sangat Merajalela,” menuduh badan tersebut tidak bertanggung jawab kepada para pembayar pajak.
Pemerintahan Trump mengungkapkan beberapa contoh pemborosan dan penyalahgunaan dana oleh USAID. Mereka menyoroti dana yang dikeluarkan untuk aktivitas transgender, yang dianggap Trump sebagai sesuatu yang tidak pantas. Contohnya, US$1,5 juta untuk memajukan kesetaraan dan inklusi keberagaman di Serbia, US$70.000 untuk produksi musikal DEI di Irlandia, dan US$47.000 untuk opera transgender di Kolombia.
Selain itu, USAID juga mengeluarkan US$32.000 untuk buku komik transgender di Peru, dan US$2 juta untuk perubahan jenis kelamin serta aktivisme LGBT di Guatemala. Gedung Putih juga melaporkan pengeluaran sebesar U$2,5 juta untuk kendaraan listrik di Vietnam, U$6 juta untuk mendanai pariwisata di Mesir, dan jutaan dolar untuk EcoHealth Alliance yang dianggap terlibat dalam penelitian di laboratorium Wuhan.
Penutupan USAID juga dipengaruhi oleh masukan dari pendonor utama Trump, Elon Musk. Pemilik X tersebut saat ini menjabat di departemen efisiensi AS. Menurut laporan The Guardian, Musk melakukan panggilan telepon kepada pimpinan politik dan petugas keamanan USAID untuk menuntut penangguhan puluhan pejabat tinggi badan itu. Musk juga diduga membujuk serta mengancam pejabat senior USAID untuk memberikan data pribadi dan akses ke area terlarang kepada para pengikutnya.
Rencana penutupan USAID oleh Trump menimbulkan kekhawatiran di kalangan internasional, terutama di negara-negara yang bergantung pada bantuan dari badan tersebut. USAID telah lama berperan dalam mendukung pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan di berbagai negara. Penutupan ini dapat mengganggu program-program penting yang sedang berjalan dan berdampak negatif pada masyarakat yang membutuhkan.
Banyak pihak yang mengecam keputusan Trump ini, mengingat USAID telah memberikan kontribusi signifikan dalam membantu negara-negara yang sedang berjuang menghadapi krisis. Dukungan internasional terhadap USAID menunjukkan pentingnya lembaga ini dalam menjaga stabilitas dan kemajuan di berbagai belahan dunia.
Dengan penutupan USAID, diharapkan ada solusi alternatif yang dapat memastikan kelanjutan bantuan dan dukungan bagi negara-negara yang membutuhkannya. Komitmen terhadap kerja sama internasional dan bantuan kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas dalam upaya mencapai perdamaian dan kesejahteraan global.





