Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, mengungkapkan bahwa gletser di seluruh penjuru dunia mengalami pencairan yang signifikan, mengakibatkan hilangnya 900 gigaton air tawar. Pernyataan ini disampaikan Retno dalam acara Forum Air Indonesia pada Rabu (26/3). “Data menunjukkan bahwa gletser, sebagai sumber utama air tawar, telah kehilangan 900 gigaton air,” ujar Retno.
Retno menambahkan bahwa kehilangan gletser ini merupakan yang terbesar dalam 50 tahun terakhir. Situasi ini semakin memperburuk kenaikan permukaan air laut secara global. “Kondisi ini menyebabkan permukaan air laut naik 20 sentimeter lebih tinggi dibandingkan tahun 1900,” jelas Retno. Kenaikan ini menimbulkan ancaman serius bagi wilayah pesisir dan ekosistem laut.
Selain itu, Retno menyoroti dampak bencana banjir yang telah mempengaruhi 32 juta jiwa di seluruh dunia. Bahkan, 680 juta orang yang tinggal di kawasan pesisir terancam oleh kenaikan air laut dalam satu tahun terakhir. “Kondisi ini menempatkan jutaan orang dalam risiko tinggi,” tambahnya.
Retno juga mengungkapkan bahwa 29 juta orang terdampak kekeringan akibat minimnya sumber air. Ia memprediksi bahwa pada tahun 2050, tiga per empat populasi dunia akan mengalami dampak kekeringan. “Kekeringan ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan akses air bersih,” kata Retno.
Retno juga menyoroti masalah polusi air yang semakin parah. “Data kami menunjukkan bahwa 3 miliar orang hidup dalam risiko karena air yang terkontaminasi,” ungkapnya. Polusi air menjadi tantangan global yang memerlukan upaya kolaboratif dari pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengatasi krisis ini.
Di sisi lain, Retno menekankan bahwa air merupakan sumber kehidupan yang esensial. “Tidak ada kehidupan tanpa air. Air memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian dan keberlangsungan planet,” tegasnya. Air juga menjadi elemen utama dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s).
Krisis air global yang disebabkan oleh pencairan gletser dan polusi air menuntut perhatian serius dari seluruh pihak. Upaya kolaboratif diperlukan untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan akses air bersih bagi semua orang. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih berkelanjutan dan aman bagi generasi mendatang.





