Gunung Marapi, yang bersemayam di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, menggeliat dengan erupsi berturut-turut selama tiga hari terakhir. Hingga Jumat (4/4), Pos Pengamat Gunung (PGA) Marapi melaporkan telah terjadi lima kali letusan dan 20 kali hembusan. Letusan ini disertai semburan abu vulkanik yang menjulang hingga 1,5 kilometer dari puncak gunung.
Kendati aktivitas vulkanik meningkat, status Gunung Marapi masih bertahan pada level II atau waspada. Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, dalam pernyataan tertulisnya, menegaskan bahwa potensi letusan tetap ada dan bisa terjadi sewaktu-waktu sebagai pelepasan energi. Potensi bahaya dari lontaran material letusan diperkirakan berada dalam radius 3 kilometer dari pusat Kawah Verbeek.
Menurut Wafid, letusan yang terjadi secara tidak kontinu ini disebabkan oleh dinamika pasokan fluida atau magma dari kedalaman tubuh gunung. Erupsi-erupsi Gunung Marapi diperkirakan terjadi karena buka-tutup ventilasi konduit di bagian dasar Kawah Verbeek. Sejak tahun 1807, Gunung Marapi dikenal sering mengalami erupsi dengan masa istirahat terpendek kurang dari satu tahun dan terlama 17 tahun.
Wafid merinci bahwa rata-rata masa istirahat erupsi Gunung Marapi adalah 3,5 tahun. Sejak tahun 1987 hingga sekarang, erupsi bersifat eksplosif dari Kawah Verbeek. Aktivitas erupsi biasanya disertai suara gemuruh atau dentuman, dengan produk erupsi berupa abu, lapili, dan terkadang diikuti oleh lontaran material pijar dan bom vulkanik.
Berdasarkan aktivitas vulkanik yang terjadi, masyarakat diminta untuk tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar lembah dan bantaran sungai yang berhulu di puncak Marapi diimbau untuk mewaspadai ancaman bahaya lahar atau banjir lahar, terutama saat musim hujan.
Wafid juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu, guna menghindari gangguan saluran pernapasan. Dengan adanya ancaman erupsi ini, masyarakat di sekitar Gunung Marapi diharapkan tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga.
Erupsi beruntun Gunung Marapi menambah daftar panjang aktivitas vulkanik di Indonesia. Dengan status waspada yang masih berlaku, penting bagi masyarakat untuk terus memantau informasi dari pihak berwenang dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan dampak lebih lanjut. Koordinasi antara PGA dan masyarakat setempat diharapkan dapat meminimalisir risiko dan memastikan keselamatan semua pihak yang terdampak.





