Di bawah payung lusuh yang menaungi gerobak kayunya, Ujang tekun memperbaiki sepasang sepatu dengan sol yang mulai terlepas. Jemarinya lincah menggenggam palu kecil, mengetuk paku-paku tipis agar menempel kuat di bagian alas. Di tengah riuh kendaraan yang melintas, suara ketukan itu nyaris tak terdengar. Namun bagi Ujang (57), bunyi tersebut telah menjadi irama keseharian selama lebih dari tiga dekade di Jakarta.
Pria asal Garut, Jawa Barat, itu merantau ke ibu kota saat usianya masih belasan tahun. Ia mengikuti jejak kerabat sekampung yang lebih dulu bekerja sebagai tukang sol sepatu. Sejak saat itu, kehidupannya tak lepas dari aroma lem, serpihan karet, dan sepatu-sepatu yang aus dimakan waktu.
“Sudah lebih dari 30 tahun,” ujar Ujang saat ditemui di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Selama kurun waktu tersebut, ia menyaksikan Jakarta terus berubah. Gedung-gedung tinggi berdiri, pusat perbelanjaan bertambah, dan sepatu bermerek internasional semakin mudah dijangkau. Meski demikian, Ujang tetap bertahan dengan gerobaknya.
“Dari dulu memang di sol sepatu saja,” katanya.
Ia pernah menjalani masa berkeliling sambil memanggul peralatan, menyusuri gang-gang perumahan dan menawarkan jasa dari pintu ke pintu. Kini, ia bersyukur memiliki lokasi mangkal tetap meski sederhana. Soal penghasilan, menurutnya, tidak pernah pasti.
“Kadang ramai, kadang sepi. Namanya juga rezeki, tidak bisa disamakan antara hari ini dan kemarin,” ucapnya.
Tarif yang ia tetapkan relatif terjangkau. Untuk perbaikan sol sepatu biasa, ia mematok harga sekitar Rp 25.000. Untuk sepatu sekolah, ia menyesuaikan dengan kemampuan pelanggan.
“Kalau anak sekolah biasanya disesuaikan. Mereka kan pakai uang jajan dari orangtua,” tuturnya.
Sementara itu, untuk sepatu jenis boots atau bahan yang lebih tebal, biaya perbaikan bisa mencapai Rp 50.000, tergantung tingkat kerusakan.
Berdasarkan pengamatan di kawasan Lenteng Agung, tepatnya dekat Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan, tampak lapak sol sepatu sederhana berdiri di atas trotoar. Gerobak kayu beratap payung itu menempel pada pagar rumah warga, memanfaatkan ruang sempit di antara jalan dan tembok pembatas.
Gerobak bercat biru-putih dengan tulisan “Sol Sepatu” yang mulai pudar itu menampilkan tumpukan sol karet hitam di bagian atasnya. Sebagian diikat tali agar tidak terjatuh. Beberapa sepatu yang telah selesai diperbaiki dipajang sebagai contoh hasil kerja.





