DI TEPI JALAN JAGAKARSA, GEROBAK SOL SEPATU TUHAYA BERTAHAN DI TENGAH MODERNISASI

Redaksi RuangInfo

Deretan sepeda motor dan mobil terus melaju di Jalan Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026) siang. Di tengah lalu lintas yang ramai dan bangunan permanen yang kian menjamur, sebuah gerobak kayu bercat biru-putih tetap berdiri di pinggir trotoar. Tulisan “Sol Sepatu” di badan gerobak itu tampak memudar, dengan cat yang mulai terkelupas di beberapa sisi. Di bagian atasnya tersusun sol karet hitam dengan rapi, sebagian diikat tali agar tidak terjatuh. Beberapa sepatu hasil perbaikan dipajang sebagai contoh kerja.

Gerobak tersebut bersandar pada pagar rumah warga, memanfaatkan celah sempit antara trotoar dan tembok pembatas. Sebuah payung besar terpasang untuk melindungi lapak sederhana itu dari terik matahari. Di balik gerobak, Tuhaya (51) duduk di bangku plastik rendah. Ia sesekali membungkuk mengambil palu, tang, atau lem dari kotak kayu kecil di bawah gerobaknya. Saat tidak ada pelanggan, ia menunduk memeriksa telepon genggamnya. Lapak kecil itu menjadi bagian dari aktivitas ekonomi informal di kawasan yang terus berkembang. Di tengah kehadiran pusat perbelanjaan dan toko sepatu modern, jasa sol sepatu kaki lima masih memiliki tempat tersendiri.

Tuhaya mengaku telah lama menekuni pekerjaan sebagai tukang sol sepatu. Khusus di kawasan Lenteng Agung, ia sudah menetap sekitar empat tahun terakhir.

“Sehari-hari saya di sini. Ada juga yang keliling, biasanya yang sudah tua dipikul pakai kayu. Kalau saya tetap di sini saja pakai gerobak,” ujar Tuhaya saat ditemui.

Di sekitar Jalan Jagakarsa, ia memperkirakan terdapat sekitar tujuh tukang sol sepatu. Ada yang menetap di satu lokasi, ada pula yang berkeliling menyusuri gang perumahan. Profesi ini, menurutnya, juga menghadapi tantangan, termasuk penertiban dari Satpol PP.

“Sering. Bisa dibilang langganan,” katanya.

Ia bahkan pernah kehilangan kartu tanda penduduk (KTP) saat penertiban dan harus menebusnya dengan biaya Rp 150.000. Saat ini, ia mengaku tidak lagi menyimpan KTP.

“Kalau ada kebutuhan administrasi ya susah juga, tapi dijalani saja,” ucapnya.

Agar tetap bisa berjualan di lokasi tersebut, Tuhaya juga membayar iuran kepada organisasi masyarakat setempat sekitar Rp 200.000 setiap bulan. Ia tidak memiliki izin resmi untuk membuka lapak di sana.

Terkait penghasilan, Tuhaya menyebut jumlahnya tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa memperoleh Rp 20.000, namun di hari lain bisa lebih atau bahkan tidak mendapat pelanggan sama sekali.

“Untuk makan sehari-hari cukup. Tapi tidak bisa pasti. Kadang dapat Rp 20.000 sehari, kadang lebih, kadang juga sepi. Yang penting dapat saja dulu,” tuturnya.

Tarif jasa perbaikan sepatu pun beragam. Untuk perbaikan ringan seperti merekatkan bagian yang terlepas, biaya berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000, tergantung ukuran dan tingkat kerusakan. Jika harus menjahit ulang seluruh bagian alas sepatu, tarifnya dapat mencapai Rp 50.000 per pasang. Sementara harga sol karet baru berada di kisaran Rp 30.000 hingga Rp 70.000.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *