Meja kerja kini tak selalu identik dengan ruang kantor. Di berbagai sudut Jakarta, pemandangan laptop terbuka ditemani secangkir kopi dan earphone yang terpasang sudah menjadi hal biasa di kafe maupun minimarket.
Fenomena work from anywhere (WFA) membuat batas antara ruang publik dan ruang kerja kian tipis, sekaligus mencerminkan pergeseran budaya kerja masyarakat urban. Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah pandemi mereda dan sistem kerja makin fleksibel, kafe serta minimarket beralih fungsi menjadi alternatif tempat bekerja.
Bagi sebagian pekerja, bekerja di luar rumah bukan lagi sekadar variasi untuk menghilangkan kejenuhan, melainkan telah menjadi rutinitas sekaligus cara menjaga produktivitas. Ada yang mencari suasana baru, ada pula yang mengejar fokus. Tak sedikit yang bahkan menganggap biaya nongkrong sebagai bentuk investasi untuk menunjang kinerja.
Dafa (27), seorang content writer freelance, termasuk yang menjadikan kafe sebagai bagian dari sistem kerjanya. Ia mulai rutin berpindah tempat sejak pembatasan pandemi dilonggarkan dan aktivitas di luar kembali normal. Berbulan-bulan bekerja dari kamar kos membuat ritme hariannya terasa monoton dan penuh distraksi.
“Saat itu sudah benar-benar merasa jenuh kerja terus di kamar kos,” kata Dafa saat ditemui di kawasan Tebet. Keputusannya bekerja dari luar rumah berdampak pada suasana hati dan produktivitasnya. “Dari yang tadinya gampang terdistraksi, di luar rumah saya justru merasa lebih terdorong untuk menyelesaikan pekerjaan,” ujarnya.
Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut menjadi pola yang konsisten. “Nah sejak saat itu, kerja di kafe bukan lagi sekadar selingan, tapi jadi bagian dari rutinitas lah,” katanya. Jika proyek sedang banyak, ia bisa bekerja dari kafe empat hingga lima kali dalam sepekan.
Menurut Dafa, rumah memiliki terlalu banyak godaan seperti kasur yang mudah mengalihkan perhatian. Sebaliknya, suasana ruang publik justru membuatnya lebih disiplin. “Di kafe, saya merasa ada ‘tekanan’ yang membuat saya lebih disiplin. Rasanya sayang kalau sudah keluar uang tapi enggak benar-benar kerja,” ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, ia mengakui bekerja di kafe tentu lebih mahal dibandingkan di rumah. Namun, ia memandangnya sebagai investasi untuk produktivitas. Dalam sehari, Dafa rata-rata menghabiskan sekitar Rp 60.000 untuk membeli kopi atau camilan agar bisa bekerja beberapa jam. Jika dihitung dengan frekuensi rutin selama sebulan, total pengeluarannya bisa menembus lebih dari Rp 1 juta.





