Pemandangan anak-anak usia sekolah yang menjajakan tisu di trotoar stasiun hingga di sela-sela kemacetan lampu merah masih menjadi potret buram di pusat gravitasi ekonomi Jakarta. Berdasarkan pantauan di kawasan Jakarta Pusat pada Selasa sore, terlihat belasan anak dengan tas kecil di pundak mereka dengan gigih menawarkan dagangan kepada setiap pejalan kaki dan pengendara yang melintas di tengah hiruk-pikuk kota. Salah satu di antaranya adalah Rio (10), yang setiap harinya menghabiskan waktu di sekitar Stasiun Sudirman selepas jam sekolah berakhir untuk menjual paket tisu seharga Rp5.000. Aktivitas yang dimulai sejak pukul tiga sore hingga malam hari ini dilakukan demi mendapatkan uang saku tambahan sekaligus membantu meringankan beban ekonomi keluarga di rumah.
Fenomena ini tidak hanya terkonsentrasi di area transportasi publik, tetapi juga merambah ke titik-titik krusial seperti lampu merah kawasan Senen dan Harmoni. Anak-anak sebayanya melakukan hal serupa dengan berlarian di antara deretan mobil yang berhenti, memanfaatkan celah waktu singkat sebelum lampu lalu lintas berubah hijau. Kondisi ini memicu keprihatinan dari para pengguna jalan, seperti Anita (28), yang mengaku merasa iba sekaligus khawatir melihat keberadaan mereka di jalan raya yang padat kendaraan. Risiko keselamatan yang tinggi saat beraktivitas di pinggir aspal yang panas maupun saat hujan turun menjadi sorotan utama, mengingat waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau bermain justru terserap oleh kerasnya persaingan hidup di jalanan.
Dinas Sosial DKI Jakarta mengonfirmasi bahwa fenomena anak penjual tisu ini sering kali berakar pada desakan ekonomi keluarga, di mana terdapat dorongan dari orang tua atau jaringan tertentu untuk menurunkan anak-anak ke jalan. Satuan Tugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) secara rutin melakukan jangkauan persuasif dan pengawasan di titik-titik rawan, meskipun sering terkendala oleh mobilitas anak-anak yang kerap berpindah tempat saat petugas datang. Fokus utama otoritas saat ini adalah memberikan pembinaan mendalam kepada pihak keluarga agar prioritas pendidikan anak tidak tergerus oleh kebutuhan ekonomi jangka pendek, sehingga mereka dapat kembali ke bangku sekolah dan meninggalkan aktivitas berbahaya di jalan raya.
Hingga kini, masalah kesejahteraan anak di jalanan Jakarta tetap menjadi tantangan sosial yang kompleks bagi pemerintah daerah pada tahun 2026. Meskipun berbagai program bantuan sosial telah digulirkan secara masif, realita di lapangan menunjukkan bahwa faktor kemiskinan struktural masih memaksa anak-anak seperti Rio kehilangan masa kecilnya demi lembaran rupiah. Sinergi antara pengawasan lapangan yang ketat dan pemberdayaan ekonomi keluarga menjadi kunci krusial untuk memutus rantai eksploitasi anak di ruang publik. Masyarakat diharapkan tetap empati namun juga mendukung upaya pemerintah dalam mengarahkan anak-anak ini kembali ke jalur pendidikan formal demi masa depan yang lebih terjamin dan bermartabat.





