Geliat Thrifting di Pasar Senen: Kaum Ibu Padati Lapak Pakaian Dalam Impor demi Merek Ternama Harga Miring

Redaksi RuangInfo

Jelang pertengahan Maret 2026, kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, kembali menjadi magnet bagi para pemburu barang bekas berkualitas, khususnya di sektor pakaian dalam impor. Berdasarkan pantauan pada Selasa sore, 10 Maret 2026, area lantai dua pasar ini dipadati oleh kaum ibu yang antusias memilah tumpukan bra dari berbagai merek ternama asal Jepang dan Korea Selatan. Dengan harga yang dibanderol mulai dari Rp10.000 hingga Rp35.000 per potong, para pembeli merasa mendapatkan keuntungan besar dibandingkan harus merogoh kocek ratusan ribu rupiah untuk barang baru di pusat perbelanjaan modern. Kualitas bahan yang masih prima, kawat yang kokoh, serta keaslian merek menjadi alasan utama mengapa komoditas bekas ini tetap menjadi primadona di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.

Para pedagang di Pasar Senen melaporkan lonjakan omzet hingga dua kali lipat dalam sepekan terakhir seiring dengan dibongkarnya stok baru dari karung besar atau bal impor. Selain bra, produk lain seperti korset dan pakaian tidur juga menjadi incaran utama para pelanggan yang ingin mempersiapkan penampilan terbaik menyambut hari raya Lebaran dengan anggaran terbatas. Konsumen yang datang umumnya sudah memiliki pengetahuan mendalam mengenai merek-merek luar negeri yang menawarkan ketahanan lebih baik dibandingkan produk lokal berharga murah. Fenomena ini mempertegas posisi Pasar Senen sebagai pusat ekonomi rakyat yang mampu menyediakan solusi gaya hidup bermerek bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di ibu kota.

Meski praktik perdagangan pakaian bekas impor masih sering bersinggungan dengan regulasi pemerintah dan isu kesehatan, para pelanggan setia di Pasar Senen memiliki protokol kebersihan mandiri yang ketat. Para pembeli mengaku tidak khawatir selama barang yang dibeli diproses dengan benar, seperti direndam air panas, dicuci menggunakan cairan disinfektan, hingga disetrika dengan suhu tinggi sebelum digunakan. Bagi mereka, ketahanan barang bermerek meskipun dalam kondisi bekas jauh lebih bernilai daripada membeli produk baru tanpa identitas merek yang jelas. Kepercayaan konsumen terhadap ketangguhan produk mancanegara ini menjadi fondasi kuat yang menjaga ekosistem thrifting tetap bergeliat di tengah ketatnya aturan impor.

Pihak pengelola pasar terus mengimbau pengunjung untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap barang bawaan mengingat kondisi lorong-lorong pasar yang sangat padat oleh kerumunan pembeli. Di sisi lain, tren ini menunjukkan bahwa daya tarik barang branded dengan harga terjangkau masih menjadi magnet sosial-ekonomi yang sulit digantikan. Kawasan Pasar Senen pun membuktikan diri tetap menjadi “surga” bagi para pecinta barang bekas yang mencari nilai lebih dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Dengan pangsa pasar yang loyal dan terus berkembang, aktivitas perdagangan di lokasi bersejarah ini diprediksi akan terus memuncak hingga mendekati masa libur panjang di pertengahan tahun 2026 ini.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *