Seorang pelaku usaha kuliner mi ayam di kawasan Bekasi Selatan berinisial SM (38) membagikan pengalaman pahitnya terkait strategi pemasaran digital yang tidak membuahkan hasil. Meski telah mengalokasikan anggaran hingga jutaan rupiah untuk menggunakan jasa promosi atau endorse dari seorang pembuat konten lokal dengan ratusan ribu pengikut, penjualan di kedainya justru tidak menunjukkan tren kenaikan. Alih-alih mendapatkan lonjakan pelanggan sebagaimana yang diharapkan, pengusaha ini justru harus menelan kerugian karena biaya pemasaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pemasukan yang diterima pasca-unggahan video promosi tersebut.
SM mengungkapkan bahwa meskipun video yang diunggah oleh sang pemengaruh mendapatkan respons berupa ribuan tanda suka dan komentar, interaksi tersebut tidak bertransformasi menjadi kunjungan fisik ke warungnya. Setelah dianalisis, sebagian besar komentar di media sosial hanya berfokus pada pujian terhadap sang konten kreator daripada menggali informasi mendalam mengenai cita rasa, lokasi, maupun harga menu yang ditawarkan. Kondisi ini membuat SM menyimpulkan bahwa jangkauan konten tersebut tidak tepat sasaran dan gagal menyentuh target pasar yang benar-benar berniat melakukan transaksi di wilayah Bekasi.
Kegagalan strategi ini menjadi titik balik bagi SM untuk mengevaluasi kembali cara mempromosikan bisnis kulinernya di tengah persaingan yang kian kompetitif. Ia menyadari bahwa jumlah pengikut yang besar di media sosial tidak selalu menjamin kesuksesan konversi penjualan secara instan bagi pelaku UMKM. Akibat dari pengeluaran yang tidak efisien tersebut, kini ia lebih memilih untuk kembali pada metode promosi konvensional dan optimalisasi iklan digital yang memiliki pengaturan cakupan wilayah lebih spesifik agar pesan promosi dapat sampai langsung kepada calon pelanggan potensial di sekitar lokasi usaha.
Kisah yang dialami pengusaha mi ayam ini menjadi pengingat bagi para pelaku usaha mikro lainnya di Bekasi agar lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih mitra promosi digital. Pemilihan figur promosi kini dirasa perlu mempertimbangkan keterkaitan antara pengikut sang kreator dengan jenis produk yang dipasarkan agar anggaran pemasaran tidak terbuang percuma. Saat ini, SM memilih untuk kembali memprioritaskan konsistensi kualitas rasa dan penguatan basis pelanggan lokal sebagai langkah awal untuk memulihkan stabilitas finansial usahanya setelah sempat merugi akibat strategi pemasaran yang kurang efektif.





