Insiden “getok harga” kembali mencoreng kenyamanan pengunjung di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, pasca-perhelatan konser musik pada Minggu malam. Seorang pemuda berinisial AS (22) menjadi korban praktik curang oknum pengemudi ojek pangkalan yang memanfaatkan situasi kepadatan massa dan sulitnya akses sinyal komunikasi. Dalam kondisi fisik yang lelah dan kesulitan memesan transportasi daring, korban memutuskan menggunakan jasa ojek pangkalan setelah mendapatkan kesepakatan harga lisan sebesar “dua puluh”, yang secara logis ditafsirkan sebagai Rp20.000 untuk jarak tempuh singkat menuju stasiun terdekat.
Namun, kejujuran dalam bertransaksi tersebut seketika sirna saat korban tiba di titik tujuan yang hanya berjarak sekitar dua kilometer. Sang pengemudi secara sepihak menuntut pembayaran fantastis sebesar Rp250.000 dengan dalih bahwa istilah “dua puluh” merujuk pada jumlah lembaran uang tertentu, ditambah kompensasi atas kemacetan pasca-acara. Perdebatan pun tak terelakkan, namun korban berada dalam posisi yang terdesak ketika oknum tersebut mulai memanggil rekan-rekan sesama pengemudi untuk melakukan intimidasi secara berkelompok di lokasi kejadian.
Merasa terancam dan kalah jumlah, AS akhirnya terpaksa merogoh kocek hingga Rp200.000 agar dapat segera meninggalkan situasi mencekam tersebut. Nilai ini diketahui sepuluh kali lipat lebih tinggi dari tarif normal yang berlaku, sehingga korban merasa sangat dirugikan secara materil maupun mental. Pengalaman pahit ini memicu kritik keras dari masyarakat terkait lemahnya pengawasan terhadap transportasi non-resmi yang kerap beroperasi secara liar dan melakukan aksi pemerasan terselubung saat terjadi kerumunan massa dalam skala besar di jantung ibu kota.
Merespons keresahan publik, pihak kepolisian setempat mengimbau warga untuk segera melaporkan segala bentuk intimidasi atau penipuan tarif kepada petugas keamanan terdekat. Aparat berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap oknum-oknum yang terbukti melakukan praktik premanisme berkedok jasa transportasi. Senada dengan hal tersebut, manajemen GBK menyatakan komitmennya untuk memperketat regulasi operasional kendaraan di dalam kawasan guna memastikan keamanan pengunjung dan mencegah terulangnya aksi pemerasan yang merusak citra fasilitas publik tersebut.





