Kuota Mudik Motor Gratis Ludes Kilat, Sutrisno Kecewa dan Desak Pemerintah Tambah Kapasitas Angkut

Redaksi RuangInfo

Raut kekecewaan mendalam tampak pada wajah Sutrisno (45), seorang perantau di Jakarta yang harus menelan pil pahit saat mendapati kuota program Mudik Motor Gratis (Motis) 2026 telah habis terisi. Datang jauh-jauh dari Jakarta Utara ke Stasiun Jakarta Gudang pada Selasa sore, ia terkejut mengetahui bahwa slot pengiriman motor untuk rute favorit menuju Surabaya, Jawa Timur, sudah ludes hanya dalam waktu dua hari sejak pendaftaran dibuka. Fenomena “perang kuota” ini menunjukkan betapa tingginya ketergantungan masyarakat kelas menengah bawah terhadap fasilitas transportasi cuma-cuma dari pemerintah di tengah melambungnya biaya hidup di ibu kota.

Bagi Sutrisno, program Motis bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan tumpuan ekonomi utama untuk merayakan Lebaran di kampung halaman tanpa menguras tabungan. Ia mengeluhkan tarif pengiriman motor melalui jasa ekspedisi swasta yang kini melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp700.000 menjelang musim mudik. Tanpa subsidi dari pemerintah, Sutrisno mengaku keberatan menanggung biaya tersebut, mengingat kondisi finansial keluarganya yang sedang tidak menentu. Kekecewaan ini mencerminkan realitas banyak perantau yang terhimpit antara keinginan untuk tetap memiliki mobilitas di desa dan keterbatasan anggaran untuk mengangkut kendaraan pribadi mereka.

Menyikapi kondisi tersebut, Sutrisno secara terbuka mendesak Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) untuk segera mengevaluasi dan menambah kuota pengiriman atau rangkaian gerbong khusus motor. Ia berargumen bahwa jika kapasitas tidak ditambah, pemerintah seolah membiarkan warga mengambil risiko berbahaya dengan nekat mudik menggunakan sepeda motor menempuh jarak ratusan kilometer. Aspirasi ini merupakan alarm bagi otoritas terkait bahwa antusiasme masyarakat yang luar biasa besar belum sepenuhnya terakomodasi oleh armada logistik yang tersedia saat ini, sehingga target keselamatan nasional untuk menekan jumlah pemudik motor di jalan raya terancam tidak optimal.

Di sisi lain, petugas pendaftaran di lokasi mengakui bahwa kecepatan pengisian kuota secara daring memang sangat fantastis, terutama untuk rute-rute menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Masyarakat yang terkendala akses internet atau lambat dalam mengunggah dokumen sering kali kehilangan kesempatan dalam hitungan jam. Meski petugas menyarankan warga untuk terus memantau sistem demi mendapatkan kuota sisa dari pendaftar yang dibatalkan, keputusan mengenai penambahan gerbong tetap berada di tangan kebijakan pusat. Sutrisno dan ribuan warga lainnya kini hanya bisa berharap pemerintah lebih responsif terhadap tingginya permintaan ini agar tradisi mudik tahun ini tetap bisa berjalan aman, nyaman, dan ramah di kantong.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *