Turki Tegaskan Tidak Ada Relokasi Kantor Hamas ke Wilayahnya

Redaksi RuangInfo

Turki dengan tegas menepis tuduhan bahwa kelompok milisi Palestina, Hamas, telah memindahkan kantor biro politiknya ke negara tersebut setelah diduga diusir dari Qatar. Sumber diplomatik Turki menyampaikan kepada wartawan bahwa kabar mengenai Ankara menjadi markas baru Hamas “tidaklah benar”.

Menurut laporan dari Middle East Eye (MEE), meskipun anggota Hamas sering mengunjungi Turki, mereka tidak mendirikan kantor di Ankara. Pernyataan ini muncul setelah media Israel, Kan, melaporkan bahwa anggota Hamas menuju Turki setelah Qatar diduga mengusir mereka.

Beberapa media mengklaim bahwa pengusiran tersebut terjadi karena Hamas menolak berunding mengenai gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza. Amerika Serikat disebut sebagai pihak yang membujuk Qatar untuk mengusir Hamas. AS mengklaim telah meminta Qatar untuk mendepak kelompok tersebut setelah Hamas berulang kali menolak proposal kesepakatan pembebasan sandera dan mengeksekusi enam tawanan, termasuk seorang warga negara AS.

Dilansir dari The Times of Israel, seorang diplomat Arab menyatakan bahwa para anggota senior Hamas telah meninggalkan Doha, Qatar, pekan lalu menuju Turki. Qatar telah menjadi markas luar negeri Hamas sejak 2012, dan sebelum tewas dibunuh Israel, pemimpin biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, berkantor di negara tersebut.

Pemilihan Turki sebagai tempat baru bagi markas Hamas sebenarnya tidak mengejutkan. Hubungan antara Turki dan Israel telah memburuk sejak Israel melancarkan agresi ke Jalur Gaza pada Oktober 2023. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dikenal sebagai pengkritik vokal Israel dan berulang kali menyatakan bahwa agresi Israel di Gaza merupakan genosida. Turki bahkan bergabung dengan Afrika Selatan untuk menyeret Israel ke Mahkamah Internasional (International Court Of Justice/ICJ) atas dugaan kejahatan perang.

Pekan lalu, Erdogan mengumumkan bahwa pemerintahannya secara resmi telah memutuskan semua hubungan dengan Israel.

Meskipun Turki telah membantah tuduhan tersebut, Amerika Serikat memperingatkan Ankara agar tidak menerima para pemimpin Hamas di negara itu. AS menyatakan bahwa sejumlah pemimpin Hamas saat ini berada di bawah dakwaan AS dan tidak seharusnya hidup tenang di mana pun.

“Kami meyakini bahwa para pemimpin organisasi teroris yang kejam ini tidak boleh hidup dengan nyaman di mana pun, termasuk di kota besar milik salah satu sekutu dan mitra utama kami,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Matthew Miller, seperti dikutip Reuters. Namun, Miller tidak mengonfirmasi secara gamblang laporan mengenai keberadaan anggota Hamas di Turki.

Sementara itu, Hamas telah menepis laporan mengenai relokasi markasnya ke Turki dengan menyatakan bahwa kabar tersebut merupakan “rumor yang coba disebarkan Israel dari waktu ke waktu.” Hamas menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk memindahkan markas mereka ke Turki, dan menuduh Israel menyebarkan informasi yang menyesatkan untuk kepentingan politiknya.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *