militer Israel mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan udara yang menargetkan 20 “sasaran teroris” yang dikaitkan dengan Hizbullah di Beirut. Serangan ini dilakukan setelah adanya peringatan kepada penduduk di pinggiran selatan untuk segera meninggalkan area tersebut. Langkah ini diambil menjelang pertemuan kabinet keamanan Israel yang direncanakan untuk membahas kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan 13 lokasi di wilayah Dahieh, yang dikenal sebagai benteng utama Hizbullah di Beirut. Sasaran yang diserang termasuk pusat unit pertahanan udara Hizbullah, pusat intelijen, pusat komando, serta fasilitas penyimpanan senjata. Selain itu, tujuh sasaran lainnya yang diserang merupakan bagian dari sistem keuangan Hizbullah.
Sebelumnya, juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, telah memperingatkan penduduk untuk mengungsi dari daerah-daerah tertentu. Dalam sebuah posting di platform X, Adraee menyatakan bahwa penduduk berada di dekat fasilitas dan kepentingan yang berafiliasi dengan Hizbullah, yang akan menjadi sasaran Pasukan Pertahanan Israel dalam waktu dekat. Peta daerah yang menjadi sasaran di ibu kota Lebanon juga disertakan dalam posting tersebut.
Selain serangan di Beirut, militer Israel juga mengumumkan bahwa mereka telah melakukan penggerebekan di wilayah Sungai Litani. Wilayah ini terletak di sebelah utara, di mana Israel berupaya untuk menekan keberadaan Hizbullah. Dalam pernyataan lainnya, militer Israel menyebutkan bahwa angkatan udara mereka telah menyerang sekitar 30 target milik kelompok yang didukung Iran tersebut di Lebanon selatan sejak Selasa pagi.
Militer Israel telah merilis serangkaian pernyataan pada hari Selasa yang merinci serangan mereka terhadap Hizbullah di seluruh Lebanon, termasuk wilayah Dahiyeh di Beirut selatan. Selama seminggu terakhir, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menyerang sekitar 30 target teroris Hizbullah di wilayah tersebut. Target tersebut termasuk pusat komando milik unit intelijen Hizbullah.
Konflik di Lebanon ini terjadi setelah hampir satu tahun pertukaran tembakan lintas batas yang diprakarsai oleh Hizbullah. Kelompok Lebanon tersebut menyatakan bahwa mereka bertindak untuk mendukung Hamas setelah serangan kelompok Palestina itu pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, yang memicu perang di Gaza.
Menurut laporan dari Lebanon, sedikitnya 3.768 orang telah tewas di negara tersebut sejak Oktober 2023, dengan sebagian besar korban jatuh dalam beberapa minggu terakhir. Di pihak Israel, perseteruan di Lebanon telah menewaskan sedikitnya 82 tentara dan 47 warga sipil, menurut keterangan pihak berwenang.
Eskalasi serangan Israel terhadap Hizbullah di Beirut menambah ketegangan di kawasan tersebut. Dengan jumlah korban yang terus meningkat, situasi ini menuntut perhatian internasional untuk mencari solusi damai dan mencegah terjadinya konflik yang lebih luas. Keputusan yang diambil dalam pertemuan kabinet keamanan Israel akan menjadi penentu langkah selanjutnya dalam upaya mencapai gencatan senjata di Lebanon.





