Presiden Korea Selatan yang baru saja dimakzulkan oleh parlemen, Yoon Suk Seol, menegaskan akan melawan tuduhan yang diarahkan kepadanya terkait deklarasi darurat militer. Dalam sebuah pesan tertulis kepada para pendukungnya yang berkumpul di dekat kediaman presiden di Hannam-dong, Seoul, Yoon menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Saya berterima kasih kepada kalian semua atas kehadiran dalam jumlah besar untuk melindungi demokrasi bebas dan tatanan konstitusional negara ini,” ujar Yoon pada Rabu (1/1), seperti dikutip dari Korea Herald.
Yoon juga menyampaikan bahwa saat ini Korea Selatan sedang menghadapi ancaman serius, sebuah narasi yang sama ketika ia mengumumkan darurat militer.
“Korea sedang terancam hasutan dari kekuatan anti-negara dan kekuatan di dalam dan luar negeri yang mencoba merampas kedaulatan,” tegasnya.
Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran Yoon terhadap stabilitas dan keamanan negara di tengah situasi politik yang memanas.
Kantor Investigasi Korupsi untuk Pejabat Tinggi (CIO) telah berjanji untuk menangkap Yoon dan menyelidiki tuduhan pemberontakan serta penyalahgunaan wewenang yang dialamatkan kepadanya. Mereka juga mendesak Dinas Keamanan Presiden untuk tidak menghalangi proses penangkapan Yoon dengan cara apapun. Surat perintah penangkapan Yoon dikeluarkan pada 31 Desember, dengan masa berlaku sekitar sepekan. Oleh karena itu, CIO berusaha bergerak cepat untuk menangkap presiden tersebut. Jika Yoon nantinya ditahan, CIO harus memutuskan dalam waktu 48 jam apakah akan mengajukan surat perintah penangkapan untuk menahan lebih lanjut guna diinvestigasi atau membebaskannya.
Sebagai presiden, Yoon memiliki imunitas atas kasus pidana. Namun, imunitas ini tidak berlaku jika berkaitan dengan tuduhan pemberontakan. Situasi ini menempatkan Yoon dalam posisi yang sulit, di mana ia harus menghadapi tantangan hukum yang serius.
Saat ini, Yoon menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Korea Selatan terkait status pemakzulan yang dijatuhkan oleh parlemen pada pertengahan Desember. MK sedang menggodok apakah pemakzulan tersebut sah atau tidak di mata hukum. Jika pemakzulan dinyatakan sah, Yoon akan kehilangan kursi kepresidenan. Namun, jika tidak, ia akan kembali memegang kekuasaan.
Situasi politik di Korea Selatan saat ini sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Dengan tuduhan serius yang dihadapi oleh Presiden Yoon Suk Seol, serta proses hukum yang sedang berlangsung, masa depan kepemimpinan di negara ini masih belum jelas. Semua mata tertuju pada Mahkamah Konstitusi dan langkah-langkah hukum selanjutnya yang akan menentukan nasib Yoon dan stabilitas politik Korea Selatan. Dukungan dari para pendukungnya menunjukkan bahwa Yoon masih memiliki basis yang kuat, namun tantangan hukum dan politik yang dihadapinya tidak bisa dianggap remeh.





