CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 70?

Aksi Tarian Kabasaran Dosen ASN di Jakarta: Simbol Perlawanan Terhadap Kebodohan

Redaksi RuangInfo

Di bawah langit Jakarta yang mendung, perwakilan dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI) menampilkan tarian ‘perang’ Kabasaran asal Minahasa, Sulawesi Utara, dalam aksi menuntut pembayaran tunjangan kinerja (tukin) di kawasan Patung Kuda Arjunawiwaha, Jakarta, Senin (3/1). Tarian ini menjadi sorotan dalam aksi damai yang digelar oleh para dosen tersebut.

Empat penari tampil dengan kostum meriah berwarna serba merah, membawa senjata pedang layaknya siap berperang. Gerakan tubuh mereka yang melenggok diiringi alunan musik tradisional menambah semarak suasana. Sesekali, para penari menunjukkan atraksi pedang yang digesek dan ditebas ke bagian tubuh tanpa menimbulkan luka, menambah kesan dramatis dalam penampilan mereka.

Salah satu perwakilan dosen dari Universitas Sam Ratulangi, yang berorasi dari atas mobil komando, menjelaskan bahwa Tari Kabasaran merupakan tarian perang asal Minahasa. Tarian ini ditampilkan sebagai simbol bahwa dosen dan guru adalah agen yang melawan kebodohan. 

“Tarian perang. Semua dosen, guru berperang melawan, menindas kebodohan. Kita sebagai dosen bertugas membuat bangsa ini keluar dari kebodohan. Itu makna tarian perang tadi,” ujar perwakilan dosen tersebut.

Ketua Koordinator Nasional (Kornas) ADAKSI Pusat, Anggun Gunawan, menjelaskan bahwa ADAKSI membawa dua tuntutan utama dalam aksi yang digelar hari ini. Pertama, mereka mendesak pemerintah untuk segera membayarkan tukin dosen ASN Kemdiktisaintek yang belum dibayarkan sejak tahun 2020. Kedua, mereka menuntut anggaran dan pencairan tukin tahun 2025 untuk semua dosen ASN Kemdiktisaintek tanpa pembedaan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, menyatakan bahwa pengamanan aksi ini melibatkan ratusan personel gabungan untuk memastikan aksi berjalan dengan tertib dan damai. Susatyo juga mengimbau kepada para koordinator lapangan (korlap) dan orator untuk menyampaikan orasi dengan santun dan tidak memprovokasi massa. 

“Lakukan unjuk rasa dengan damai, tidak memaksakan kehendak, tidak anarkis, dan tidak merusak fasilitas umum. Hormati dan hargai pengguna jalan yang lain yang akan melintas sekitaran Gedung DPR RI,” tegasnya.

Aksi damai yang digelar oleh perwakilan dosen ASN ini menyoroti pentingnya pembayaran tunjangan kinerja yang telah tertunda sejak tahun 2020. Dengan menampilkan tarian Kabasaran sebagai simbol perlawanan terhadap kebodohan, para dosen berharap dapat menyampaikan pesan kuat kepada pemerintah. Pengamanan ketat dari aparat gabungan diharapkan dapat menjaga ketertiban dan kedamaian selama aksi berlangsung, serta tidak mengganggu ketertiban umum.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *