Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, mengungkapkan bahwa Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang juga merupakan politikus PDIP, langsung ‘nyetel’ meski terlambat bergabung dalam kegiatan retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah.
“Mas Pramono Anung langsung berkumpul bersama para Gubernur, banyak ngobrol, banyak diskusi, cukup aktif, interaksi juga dengan para narasumber,” ujar Bima di Kompleks Akmil, Senin malam.
Bima Arya menambahkan bahwa kedatangan Pramono dan sejumlah kepala daerah dari PDIP mendapat sambutan meriah dari para peserta retret. Sebagai kepala sekolah retret kepala daerah dan mewakili pemerintah, Bima mengaku sangat mengapresiasi atas bergabungnya Pramono dan rombongannya ke dalam kegiatan di Akmil ini.
“Wah, kami tadi melihat teman-teman yang baru bergabung itu disambut dengan meriah juga oleh yang ada di dalam,” ungkap Bima.
Diketahui bahwa kepala daerah yang dilantik pada 20 Februari 2025 lalu tidak langsung seluruhnya hadir dalam acara retret kepala daerah yang dimulai sejak 21 Februari. Keterlambatan ini disebabkan oleh instruksi Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang meminta para kadernya menunda keberangkatan ke retret kepala daerah di Akmil. Sebanyak 17 dari mereka baru datang pada Minggu malam, dan keesokan harinya, Senin siang, 19 orang lagi menyusul ke Akmil, termasuk Pramono Anung, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, dan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, hingga Senin malam masih belum terlihat hadir di retret tersebut. Ketidakhadiran ini menambah daftar kepala daerah PDIP yang belum bergabung dalam kegiatan penting ini. Meskipun demikian, Bima Arya menegaskan bahwa mereka yang belum hadir masih memiliki kesempatan untuk mengikuti gelombang berikutnya.
Kehadiran Pramono Anung dalam retret kepala daerah di Akmil Magelang menunjukkan komitmen dan keseriusannya dalam mengikuti proses politik yang sedang berlangsung. Meskipun ada instruksi boikot dari Ketua Umum PDIP, beberapa kepala daerah tetap memutuskan untuk hadir, menunjukkan adanya dinamika internal yang perlu disikapi dengan bijak. Dengan adanya kesempatan untuk mengikuti gelombang berikutnya, diharapkan semua kepala daerah dapat berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari retret ini.





