Ukraine's President Volodymyr Zelenskiy listens during a bilateral meeting with U.S. President Donald Trump on the sidelines of the 74th session of the United Nations General Assembly (UNGA) in New York City, New York, U.S., September 25, 2019. REUTERS/Jonathan Ernst TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mendengarkan keterangan saat pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela agenda sidang Majelis Umum PBB ke-74 (UNGA) di Kota New York, New York, Amerika Serikat, Rabu (25/9/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst/djo/AWW

Pembatalan Kesepakatan Tanah Jarang: Cekcok Trump dan Zelensky di Gedung Putih

Redaksi RuangInfo

Ketegangan memuncak di Gedung Putih ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, terlibat dalam perselisihan sengit yang berujung pada pembatalan penandatanganan perjanjian penting terkait akses Amerika Serikat ke tanah jarang Ukraina. Perjanjian yang seharusnya ditandatangani pada Jumat (28/2) waktu AS ini batal setelah kedua pemimpin terlibat adu mulut di Ruang Oval.

Awalnya, Trump dan Zelensky dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan tersebut dalam sebuah konferensi pers setelah pertemuan mereka. Namun, suasana berubah ketika diskusi mengenai perang Rusia-Ukraina memanas di hadapan media. Trump menyarankan agar Ukraina membuat kompromi demi mencapai perdamaian dengan Rusia, tetapi tidak memberikan jaminan bahwa Ukraina akan mendapatkan kembali wilayah yang telah dicaplok oleh Rusia. Zelensky dengan tegas menolak gagasan tersebut, yang memicu Trump untuk mencaci maki dan menuduh Zelensky terlalu percaya diri serta belum siap untuk negosiasi damai.

Akibat ketegangan tersebut, konferensi pers yang direncanakan dibatalkan, begitu pula dengan penandatanganan perjanjian. Pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa kesepakatan mineral AS-Ukraina tidak jadi ditandatangani sebelum Zelensky meninggalkan Gedung Putih, seperti dilaporkan oleh Financial Post. Perjanjian ini menjadi sorotan karena dianggap sebagai langkah penting bagi Ukraina untuk membalas dukungan AS dalam melawan invasi Rusia.

Setelah insiden tersebut, Zelensky menyatakan bahwa dirinya tidak merasa perlu meminta maaf kepada Trump. Namun, ia menyesali pertengkaran itu dan berharap agar Amerika Serikat tetap berada di pihak Ukraina. Zelensky optimis bahwa hubungan antara AS dan Ukraina masih bisa diperbaiki, menekankan bahwa hubungan kedua negara lebih dari sekadar dua presiden. Dalam wawancara dengan Fox News, Zelensky mengakui pentingnya dukungan AS dalam perang melawan Rusia, dengan mengatakan, “Akan sulit tanpa dukung Anda [Presiden AS Donald Trump].”

Insiden di Gedung Putih ini menyoroti tantangan diplomatik yang dihadapi Ukraina dalam mempertahankan dukungan internasional di tengah konflik dengan Rusia. Meskipun terjadi ketegangan dengan AS, Zelensky tetap optimis bahwa hubungan bilateral dapat diperbaiki melalui diplomasi dan kerjasama di berbagai bidang. Dengan dukungan yang kuat dari sekutu-sekutu internasional, Ukraina diharapkan dapat terus memperjuangkan kedaulatan dan keamanannya di tengah situasi yang sulit ini.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *