Dalam sebuah kasus yang mengguncang, seorang wanita muda berinisial SHDR, yang lebih dikenal dengan nama Fani atau Stefani, berusia 20 tahun, kini resmi menyandang status tersangka dalam dugaan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Kasus ini melibatkan mantan Kapolres Ngada, AKBP Fajar Widyadharma Lukman Sumaatmaja. Penyidik dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Subdit IV Renakta, Ditreskrimum Polda NTT, mengungkapkan bahwa Fani memiliki peran krusial dalam membantu mencarikan anak di bawah umur untuk AKBP Fajar.
Pada Jumat, 21 Maret 2025, Polda NTT mengumumkan penetapan tersangka terhadap Fani. Pemeriksaan terhadap Fani sebagai tersangka dilakukan pada hari Senin berikutnya. Kombes Pol. Patar Silalahi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTT, menyampaikan kepada wartawan pada Selasa sore, 25 Maret, bahwa setelah pemeriksaan, Fani langsung ditahan di Rutan Polda NTT sejak Senin, 24 Maret.
Fani diduga berperan dalam mencari dan mengantar seorang anak berusia 6 tahun kepada AKBP Fajar di Hotel Kristal pada 11 Juni 2024. Anak tersebut kemudian menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh mantan Kapolres Ngada tersebut. Kombes Pol. Patar menjelaskan bahwa Fani menerima imbalan sebesar Rp 3 juta untuk perannya tersebut. Sementara itu, Fani memberikan uang sebesar Rp 100 ribu kepada korban dan berpesan agar tidak memberitahukan kejadian tersebut kepada orang tuanya.
AKBP Fajar diketahui meminta Fani untuk mencarikan anak pada 10 Juni 2025, dan permintaan tersebut baru dipenuhi pada 11 Juni 2025. “Dipesan tanggal 10 Juni tapi baru disanggupi tanggal 11 Juni,” ujar Kombes Pol. Patar. Saat membawa korban, Fani tidak memberitahu orang tua korban, karena korban sudah sering bepergian bersamanya.
Kini, Fani dijerat dengan pasal undang-undang kekerasan seksual serta pasal 17 Undang-undang nomor 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kasus ini menambah daftar panjang kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia, yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.





