Selama lima bulan terakhir, penduduk Korea Selatan yang bermukim di sepanjang perbatasan Zona Demiliterisasi (DMZ) antara Korea Utara dan Korea Selatan hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ketidaknyamanan. Setiap malam, mereka dihantui oleh suara-suara menakutkan yang berasal dari arah Korea Utara.
Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Dangsan, yang terletak di pesisir utara Pulau Ganghwa, sebelah barat ibu kota Seoul. Desa ini hanya berjarak 1,6 kilometer dari Korea Utara, dipisahkan oleh hamparan laut kelabu. Menurut laporan The New York Times pada Sabtu (16/11/2024), penduduk desa tersebut mengaku mendengar suara-suara keras dan berderak seperti gong raksasa yang dipukul berulang kali. Pada malam-malam lainnya, mereka mendengar suara serigala melolong, logam bergesekan, atau jeritan hantu dari film horor. Beberapa warga bahkan melaporkan mendengar suara artileri dan monyet marah yang memukul piano rusak.
Warga Desa Dangsan merasa tersiksa dengan teror suara yang tiada henti ini. Mereka mengaku lelah dengan serangan suara yang terus-menerus. “Teror suara ini membuat kami gila. Kami tidak bisa tidur di malam hari,” ungkap An Mi-hee, seorang warga desa berusia 37 tahun.
Teror suara ini berkaitan erat dengan pasang surut hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Secara teknis, kedua negara masih dalam keadaan perang sejak Perang Korea (1950-1953) yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Hubungan sempat membaik di era Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, dengan penandatanganan Perjanjian Militer Komprehensif pada 19 September 2018 di Pyongyang. Namun, hubungan kembali memburuk di bawah kepemimpinan Kim Jong Un dan Presiden Yoon Suk Yeol.
Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, Korea Utara menutup semua dialog dengan Seoul dan Washington, serta menggandakan pengujian rudal berkemampuan nuklir. Pengembangan senjata nuklir ini menjadi ancaman nyata bagi Korea Selatan, sementara bagi Korea Utara, senjata tersebut adalah alat tawar untuk melawan tekanan dari kekuatan yang mereka anggap musuh.
Pada Juni 2024, Korea Utara memperkuat hubungan dengan Rusia melalui perjanjian kemitraan strategis, yang mencakup pakta pertahanan untuk saling membantu jika salah satu negara diserang. Bulan lalu, Korea Utara mengirimkan senjata dan pasukan ke Rusia untuk membantu melawan Ukraina, memperumit situasi global.
Presiden Yoon Suk Yeol, yang menjabat sejak 2022, mengadopsi pendekatan konfrontatif dengan menyerukan penyebaran gagasan kebebasan ke Korea Utara. Korea Selatan juga memperluas latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat dan Jepang, melibatkan kapal induk, pengebom strategis, dan jet siluman. Amerika Serikat menempatkan lebih dari 28.000 personel di Korea Selatan sebagai antisipasi jika Korea Utara menyerang.
Namun, penempatan pasukan AS ini mendapat protes dari Korea Utara, yang menginginkan pasukan AS pergi dari Korea Selatan. Pyongyang sering menyebut Korea Selatan sebagai boneka AS atau Barat, yang semakin meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Sejak Mei hingga Juli, Korea Utara mengirimkan ribuan balon sampah ke Korea Selatan. Sebagai respons, aktivis Korea Selatan menerbangkan selebaran anti-Pyongyang ke wilayah Korea Utara. Pada 4 Juni 2024, Presiden Yoon mengumumkan penangguhan perjanjian militer dengan Korea Utara, yang disepakati pada 2018. Dengan penangguhan ini, Korea Selatan memulai kembali kegiatan militer di sepanjang perbatasan, termasuk memasang pengeras suara yang membunyikan lagu-lagu grup vokal BTS.
Tindakan Korea Utara memasang pengeras suara di sepanjang perbatasan membuat jengkel penduduk desa Korea Selatan. Warga merasa terteror dan tersiksa dengan suara-suara yang diperdengarkan Korea Utara. “Ini pengeboman tanpa peluru,” kata An di ruang tamunya. Suara-suara seperti gong dari kejauhan terus bergemuruh, semakin keras saat malam semakin larut.
Penduduk Desa Dangsan, yang mayoritas berusia 60 tahun ke atas, menyebut suara-suara itu menjengkelkan dan menimbulkan stres. Mereka menyalahkan suara-suara itu atas insomnia, sakit kepala, dan bahkan keguguran kambing, ayam yang bertelur lebih sedikit, dan kematian mendadak seekor anjing peliharaan.
Para pemimpin politik Korea Selatan telah mengunjungi Desa Dangsan untuk menyampaikan simpati mereka. An Mi-hee hadir dalam sidang parlemen Korea Selatan bulan lalu, memohon solusi dengan berlinang air mata. Namun, alih-alih menyampaikan rencana untuk meredakan perang psikologis dengan Korea Utara, para pejabat menawarkan jendela berlapis ganda dan obat-obatan untuk ternak agar lebih mampu menahan stres akibat kebisingan.
Kepala Desa Dangsan, An Hyo-cheol, mendesak Pemerintah Korea Selatan untuk menghentikan aksi saling balas dengan Korea Utara. Ia menuntut agar pemerintahan Yoon menghentikan semua siaran propaganda dan melarang selebaran, dengan harapan Korea Utara akan melakukan hal yang sama.
Sayangnya, keadaan justru memburuk. Bulan lalu, Korea Utara menghancurkan semua jalur kereta api dan jalan raya di antara kedua Korea dengan dinamit. Bulan ini, menurut militer Korea Selatan, Korea Utara mengganggu sinyal GPS di dekat perbatasan barat, memengaruhi lalu lintas pesawat dan kapal sipil.
Penduduk di dekat perbatasan sudah muak dengan pasang surut ketegangan di semenanjung. Mereka merasa dikorbankan dalam persaingan politik yang tak kenal kompromi di antara kedua Korea. “Pemerintah telah meninggalkan kami karena jumlah kami sedikit dan sebagian besar adalah orang tua,” kata Park Hae-sook, warga Desa Dangsan lainnya.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, harapan akan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea tampaknya masih jauh dari kenyataan. Warga Desa Dangsan dan daerah perbatasan lainnya berharap agar kedua negara dapat menemukan jalan menuju dialog dan mengakhiri teror suara yang menghantui kehidupan mereka sehari-hari.





