Pertemuan Strategis Chairul Tanjung dan PM Kamboja Hun Manet: Peluang Investasi dan Kolaborasi Pendidikan

Redaksi RuangInfo

Chairman dan pendiri CT Corp, Chairul Tanjung, disambut dengan penuh kehangatan saat bertandang ke kediaman Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet. Pertemuan ini turut dihadiri oleh Menteri Senior Kamboja, Datuk Dr Othsman Hassan, Menteri Perdagangan Kamboja, Chum Nimul, serta sejumlah anggota kabinet lainnya.

Chairul Tanjung tidak datang seorang diri. Ia didampingi oleh mantan Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Perhubungan, Hatta Rajasa, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika serta Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh, serta pengusaha Joefly Joesoef. Rombongan tiba di istana Perdana Menteri sekitar pukul 15.50 waktu Kamboja.

Setelah diterima oleh protokoler, pertemuan dengan PM Hun Manet dimulai pukul 16.00. PM Hun Manet, yang baru dilantik pada tahun 2023 dan sempat hadir dalam pelantikan Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta pada 20 Oktober 2024, membuka diskusi dengan menyampaikan berbagai peluang investasi dan bisnis di Kamboja.

“Ekonomi Kamboja memang tidak sebesar Indonesia, namun kami memiliki akses ke pasar yang besar, seperti ekspor ke Asia, Amerika Serikat, dan Eropa. Sektor finansial, properti, pertanian, dan IT sedang berkembang pesat di Kamboja,” ujar PM Hun Manet.

PM Hun Manet juga menyinggung destinasi wisata utama Kamboja, Angkor Wat. Ia menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas dan infrastruktur terus dilakukan di kawasan wisata candi abad ke-12 tersebut.

“Hotel-hotel semakin banyak di Angkor Wat, dan bandara baru telah selesai dibangun untuk meningkatkan konektivitas dari berbagai destinasi ke Angkor Wat di Siem Reap,” tambahnya.

Chairul Tanjung, yang memiliki bisnis finansial di Indonesia melalui Bank Mega dan Allo Bank, merespons positif diskusi ini. Ia menyatakan bahwa peluang investasi yang ditawarkan akan disambut dengan tangan terbuka, namun tetap harus mempertimbangkan kelaikan bisnisnya.

Terkait Angkor Wat, Chairul Tanjung melihat potensi untuk membangun ekosistem destinasi wisata di kawasan tersebut.

“Kita bisa membangun destinasi atau aktivitas lain sehingga turis akan lebih lama tinggal dan mengeluarkan anggaran wisata yang lebih besar. Kami memiliki jaringan hotel, taman hiburan indoor, dan taman salju yang bisa dikolaborasikan,” jelas Chairul Tanjung.

PM Hun Manet menyambut antusias usulan tersebut. Ia yakin bahwa konsep ekosistem wisata akan membuat turis betah dan berkontribusi lebih besar pada sektor pariwisata Kamboja.

Selain investasi, pertemuan ini juga membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan. Mantan Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh, menyampaikan bahwa kolaborasi ini bisa dilakukan terutama di pendidikan tinggi dan advokasi.

Bahasa Kamboja yang sulit dipelajari menjadi tantangan, namun beberapa pegawai pemerintahan Kamboja fasih berbahasa Indonesia setelah menempuh pendidikan di Indonesia, seperti di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.

“Investasi di sektor pendidikan sangat penting. Kamboja memiliki empat kementerian yang mengurus pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga advokasi,” pungkas PM Hun Manet.

Dengan pertemuan ini, diharapkan terjalin kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Kamboja, baik di bidang investasi maupun pendidikan, yang akan memberikan manfaat bagi kedua negara.

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *