Sara Duterte Mengancam Nyawa Presiden Filipina: Istana Kepresidenan Bertindak Tegas

Redaksi RuangInfo

Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, melontarkan pernyataan yang mengejutkan publik dengan ancaman terhadap nyawa Presiden Ferdinand ‘Bongbong’ Marcos Jr jika dirinya terbunuh. Pernyataan ini memicu respons tegas dari Istana Kepresidenan Filipina yang berjanji untuk menindaklanjuti ancaman tersebut dengan serius.

Dalam sebuah konferensi pers yang dilaporkan oleh CNA, Sara Duterte mengungkapkan bahwa ia telah berkomunikasi dengan seorang pembunuh bayaran. Ia memberikan instruksi agar Presiden Marcos, istrinya Liza Araneta, dan Ketua DPR Martin Romualdez dibunuh jika dirinya mengalami pembunuhan.

“Saya telah berbicara dengan seseorang. Saya bilang, jika saya terbunuh, bunuhlah BBM (Bongbong Marcos), (ibu negara) Liza Araneta, dan (Ketua DPR) Martin Romualdez. Tidak main-main. Tidak main-main,” tegas Sara Duterte.

Menanggapi pernyataan tersebut, Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina menyatakan bahwa ancaman ini telah dirujuk kepada Komando Keamanan Presiden untuk segera mengambil tindakan yang tepat.

“Ancaman apapun terhadap nyawa presiden harus selalu ditanggapi dengan serius, terlebih lagi ancaman ini telah diungkapkan secara terbuka dengan istilah yang jelas dan pasti,” ujar perwakilan istana.

Sara Duterte, putri dari mantan Presiden Rodrigo Duterte, sebelumnya mengundurkan diri dari kabinet pada Juni lalu namun tetap menjabat sebagai wakil presiden. Keputusan ini menandai keretakan dalam aliansi politik yang sebelumnya membantunya dan Marcos memenangkan pemilu 2022 dengan selisih suara yang signifikan.

Ketua DPR Romualdez, yang juga sepupu Marcos, telah memangkas anggaran kantor wakil presiden hingga hampir dua pertiganya, memicu kemarahan Sara Duterte. Ini adalah salah satu dari serangkaian perseteruan di puncak politik Filipina, termasuk tuduhan Sara Duterte terhadap Marcos yang dianggapnya tidak kompeten.

Perseteruan ini menambah ketegangan dalam politik Filipina, terutama menjelang pemilu jangka menengah pada Mei 2025. Pemilu ini dianggap sebagai ujian bagi popularitas Marcos dan kesempatan baginya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028.

Kekerasan politik bukanlah hal baru di Filipina. Salah satu peristiwa paling terkenal adalah pembunuhan Benigno Aquino pada 1983, seorang senator yang menentang pemerintahan Marcos. Ancaman terbaru dari Sara Duterte ini menambah daftar panjang ketegangan politik di negara tersebut.

Kesimpulan Pernyataan Sara Duterte yang mengancam nyawa Presiden Marcos dan pejabat tinggi lainnya telah memicu reaksi keras dari Istana Kepresidenan Filipina. Dengan sejarah kekerasan politik yang panjang, ancaman ini diambil dengan sangat serius dan dapat mempengaruhi dinamika politik di Filipina menjelang pemilu mendatang.

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *