Georgia kembali diguncang oleh gelombang demonstrasi yang telah memasuki malam ketiga, mengakibatkan setidaknya 44 orang harus dilarikan ke rumah sakit. Aksi protes ini dipicu oleh keputusan pemerintah untuk menangguhkan negosiasi terkait upaya Georgia bergabung dengan Uni Eropa. Ribuan warga turun ke jalan, berkumpul di luar gedung parlemen pada Sabtu malam, 30 November 2024.
Situasi di luar gedung parlemen semakin memanas ketika para demonstran mulai melemparkan batu dan menyalakan kembang api. Sebagai respons, pihak kepolisian mengerahkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Dalam insiden ini, sebuah patung pendiri partai yang berkuasa di Georgia, Bidzina Ivanishvili, dibakar di depan gedung legislatif.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Georgia, pada Minggu, 1 Desember, sebanyak 27 demonstran, 16 polisi, dan satu pekerja media harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Perdana Menteri Irakli Kobakhidze menegaskan bahwa setiap pelanggaran hukum akan ditindak tegas. Ia juga membantah bahwa integrasi Georgia ke Eropa telah dihentikan, menyebut tuduhan tersebut sebagai aksi pemerasan yang menghambat proses integrasi.
Pengumuman pemerintah Georgia untuk menangguhkan negosiasi dengan Uni Eropa datang beberapa jam setelah Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang mengkritik pemilihan umum di Georgia sebagai tidak adil. Kobakhidze juga menolak pernyataan dari Departemen Luar Negeri AS yang menyatakan penangguhan kemitraan strategis dengan Georgia. Ia menuduh pemerintahan yang akan berakhir berusaha meninggalkan warisan yang sulit bagi pemerintahan baru.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, bersama komisioner perluasan, Marta Kos, merilis pernyataan bersama terkait keputusan Georgia. Mereka menyoroti bahwa langkah ini menandai pergeseran dari kebijakan pemerintah Georgia sebelumnya dan aspirasi Eropa dari rakyat Georgia. Uni Eropa menyatakan kekhawatiran serius terhadap kemunduran demokrasi di Georgia dan mendesak pemerintah untuk menghormati hak kebebasan berkumpul dan berekspresi.
Dalam perkembangan terbaru, Kobakhidze mengonfirmasi bahwa duta besar Georgia untuk AS, David Zalkaliani, menjadi diplomat terakhir yang mengundurkan diri sejak dimulainya protes. Hal ini menambah ketegangan politik yang sudah memanas di negara tersebut.
Situasi di Georgia menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat antara pemerintah dan rakyatnya, serta menimbulkan kekhawatiran di kalangan internasional. Dengan adanya tekanan dari Uni Eropa dan AS, masa depan hubungan Georgia dengan negara-negara Barat menjadi semakin tidak pasti. Pemerintah Georgia diharapkan dapat menemukan solusi damai untuk meredakan situasi dan melanjutkan dialog dengan Uni Eropa demi masa depan yang lebih baik.





