Marsma TNI Ardi Syahri, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, mengungkapkan bahwa TNI Angkatan Udara (TNI AU) berencana melanjutkan pembentukan satuan ruang angkasa pada tahun 2025. Pernyataan ini disampaikan Ardi setelah menghadiri rapat evaluasi program kerja TNI AU tahun 2024 di Mabes AU, Jakarta Timur.
Ardi menegaskan bahwa program pembentukan satuan ruang angkasa telah direncanakan dan akan dilanjutkan. Namun, ia mengakui bahwa pelaksanaan program ini pada tahun 2024 belum maksimal karena terkendala oleh teknologi dan dana. Oleh karena itu, TNI AU berkomitmen untuk lebih serius mengembangkan satuan ruang angkasa pada tahun 2025.
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menyatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk bertugas di Satuan Ruang Angkasa TNI AU. Tonny menekankan pentingnya menyiapkan SDM yang memiliki kemampuan di bidang antariksa agar dapat berkontribusi secara efektif.
“Yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan sumber daya manusianya, orang-orangnya. Ada kesempatan sekolah, kita berangkatkan sekolah ke luar negeri atau dalam negeri untuk siap membentuk spaceforce,” ujar Tonny saat ditemui di Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur.
Tonny mengakui bahwa saat ini TNI AU belum dapat menghadirkan teknologi yang mendukung satuan ruang angkasa. Fasilitas teknologi yang dibutuhkan cukup mahal, sehingga memerlukan anggaran yang besar untuk pengadaan alat-alat tersebut. Tonny menyebutkan bahwa ia telah mengunjungi PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dan melihat bahwa infrastruktur yang diperlukan sangat mahal.
“Saya sangat yakin AU kalau kita membuat suatu satelit sendiri anggaran akan habis ke sana,” kata Tonny.
Oleh karena itu, ia menilai bahwa kolaborasi antar pihak sangat diperlukan untuk mendukung pengadaan satelit bagi Satuan Ruang Angkasa TNI AU.
Tonny menekankan pentingnya kolaborasi antar lintas lembaga dan negara dalam membentuk satuan ruang angkasa untuk kepentingan pertahanan. Ia mencontohkan bahwa beberapa negara, termasuk Australia, telah melakukan kerja sama dengan negara-negara sekutu untuk membentuk spaceforce.
“Australia saja kita sudah ke sana. Mereka tidak bisa bekerja sendiri untuk membentuk spaceforce. Saya datang ke Mabesnya, mereka tetap kerja sama dengan negara-negara sekutu Australia, nah kita juga seperti itu,” jelas Tonny.
Meskipun terkendala biaya yang cukup mahal, Tonny optimis bahwa satuan ruang angkasa akan terbentuk secara bertahap dan dapat bekerja efektif dalam mempertahankan kedaulatan negara. Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang baik, TNI AU berharap dapat mewujudkan satuan ruang angkasa yang mampu berkontribusi dalam menjaga keamanan dan pertahanan nasional.





