Penyelidik dari Polda Jawa Timur mengungkapkan bahwa korban kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh pemilik panti asuhan di Surabaya, berinisial NK (61), kemungkinan lebih dari satu orang. Fakta ini terkuak setelah Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim melakukan penyelidikan awal terhadap kasus yang menggemparkan ini.
Kasus ini dilaporkan oleh korban dengan pendampingan dari Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) Universitas Airlangga serta seorang pendamping berinisial S.
“Laporan tersebut diterima sekitar pukul 17.30 WIB dan saat ini sedang ditindaklanjuti oleh Ditreskrimum Polda Jawa Timur,” ujar Kombes Dirmanto, Kabid Humas Polda Jatim, pada Jumat (31/1).
Dirmanto menjelaskan bahwa penyelidikan kasus ini masih terus berlangsung. Meskipun saat ini baru ada satu pelapor, namun jumlah korban diperkirakan akan bertambah.
“Informasi sementara yang kami terima menunjukkan bahwa korbannya lebih dari satu. Kasus ini masih dalam proses pendalaman, jadi harap bersabar,” tambah Dirmanto.
NK, yang merupakan pemilik sekaligus pengasuh panti asuhan di Surabaya, dilaporkan atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Direktur UKBH Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Sapta Aprilianto, menyatakan bahwa NK diduga telah melakukan pencabulan selama tiga tahun terakhir terhadap seorang anak asuh berusia 15 tahun di panti tersebut.
Sapta menjelaskan bahwa kasus ini terungkap setelah ada anak panti asuhan yang melarikan diri dan melaporkan kejadian tersebut kepada seseorang berinisial S (41).
“Beberapa anak kabur dan melapor kepada S, mengungkapkan bahwa telah terjadi kekerasan seksual terhadap anak-anak di panti asuhan,” jelas Sapta saat ditemui di Kampus B Unair, Surabaya, Jumat (31/1).
Dalam melancarkan aksinya, NK diduga memanfaatkan relasi kuasanya untuk memaksa korban menuruti kehendaknya.
“Ini adalah salah satu modus kejahatan di mana pelaku menggunakan kekuasaannya untuk menekan korban yang berada di bawah kekuasaannya,” ungkap Sapta.
Pihak kepolisian dan UKBH Universitas Airlangga berkomitmen untuk terus mengusut tuntas kasus ini. Mereka berharap dapat mengungkap seluruh fakta dan memberikan keadilan bagi para korban. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi terkait kasus ini.
Dengan adanya penyelidikan yang mendalam, diharapkan kasus ini dapat segera terungkap dan memberikan rasa aman bagi anak-anak di panti asuhan serta masyarakat sekitar. Pihak berwenang juga mengajak masyarakat untuk melaporkan segala bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka agar dapat segera ditindaklanjuti.





