Amerika Serikat kini dihadapkan pada serangkaian insiden penerbangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari sepekan. Rentetan peristiwa ini muncul tak lama setelah Donald Trump resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, menandai periode yang penuh tantangan bagi keselamatan penerbangan di negeri Paman Sam.
Insiden terbaru melibatkan jatuhnya pesawat jet medis Jet Rescue Air Ambulance di Philadelphia pada Jumat malam (31/1). Pesawat tersebut mengalami kecelakaan pada pukul 18.30 waktu setempat, dan video yang beredar menunjukkan jet jatuh di dekat pusat perbelanjaan dengan kobaran api serta asap hitam yang membumbung tinggi.
Pesawat ini mengangkut enam penumpang, semuanya warga negara Meksiko, termasuk pilot, kopilot, dokter, paramedis, pasien, dan pengawal pasien. Juru bicara Jet Rescue Air Ambulance, Shai Gold, menyatakan bahwa pesawat tersebut mengangkut seorang pasien perempuan muda dari Philadelphia untuk kembali ke rumahnya di Meksiko. Pesawat berencana singgah di Missouri untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Tijuana.
Gold menduga bahwa seluruh penumpang tewas dalam kecelakaan ini. “Kami tak punya informasi bahwa ada yang selamat dan melihat besarnya kobaran api, puing-puing pesawat, dan pemandangan kecelakaan, kami ragu ada yang selamat,” kata Gold, seperti dikutip oleh New York Times.
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai korban tewas atau korban di darat yang terdampak kecelakaan tersebut. Wali Kota Philadelphia, Cherelle Parker, menyatakan bahwa sejumlah rumah dan kendaraan terkena dampak dari kecelakaan ini.
Dua hari sebelum insiden di Philadelphia, sebuah kecelakaan tragis lainnya terjadi ketika helikopter militer AS Black Hawk bertabrakan dengan pesawat komersial American Airlines di atas Sungai Potomac pada 29 Januari. Tabrakan ini mengakibatkan total 67 penumpang dari kedua pesawat dilaporkan tewas.
Tiga jenazah kru helikopter, yang juga merupakan anggota Angkatan Bersenjata AS, telah ditemukan. Sementara itu, sekitar 40 jenazah dari American Airlines berhasil diangkat. Beberapa penumpang pesawat ini merupakan warga negara asing, termasuk dari China, Rusia, Argentina, dan Filipina. Proses pencarian masih berlangsung, dan pihak berwenang AS terus menyelidiki penyebab kecelakaan ini.
Sebelumnya, pada 28 Januari, jet tempur siluman tercanggih milik Amerika Serikat, F-35, jatuh dan meledak saat melakukan latihan di Pangkalan Angkatan Udara di Eielson, Alaska. Beruntung, satu-satunya pilot jet tempur tersebut selamat setelah berhasil keluar menggunakan kursi pelontar dan saat ini dalam kondisi stabil setelah dilarikan ke rumah sakit.
Menurut Komandan Penerbang ke-354 Kolonel Paul Townsend, pesawat tersebut mengalami ‘kerusakan saat terbang’. Jet ini kehilangan keseimbangan dan menukik tajam saat akan mendarat, yang menyebabkan insiden tersebut.
Serangkaian kecelakaan ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan penerbangan di Amerika Serikat. Pihak berwenang saat ini tengah melakukan penyelidikan menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti dari setiap insiden. Diharapkan, hasil penyelidikan ini dapat memberikan jawaban dan langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan di masa depan.
Rentetan kecelakaan pesawat yang terjadi dalam waktu singkat ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dan keamanan dalam operasi penerbangan. Tragedi ini menyoroti perlunya evaluasi dan peningkatan standar keselamatan penerbangan, baik untuk penerbangan komersial maupun militer, guna mencegah insiden serupa di masa mendatang. Dengan penyelidikan yang sedang berlangsung, diharapkan langkah-langkah pencegahan dapat segera diimplementasikan untuk memastikan keselamatan penumpang dan awak pesawat di seluruh dunia.





