Irjen Johnny Eddizon Isir, Kapolda Papua Barat, dengan tegas menepis tuduhan adanya sabotase dalam kasus hilangnya Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni, Iptu Tomi S Marbun, yang lenyap saat operasi pengejaran Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Pernyataan ini disampaikan Johnny dalam Rapat Dengar Pendapat Umum di Komisi III DPR, Senin (17/3), sebagai respons atas dugaan yang disampaikan oleh istri Tomi, Ria Tarigan.
Johnny menjelaskan bahwa pencarian terhadap Iptu Tomi telah dilakukan dengan maksimal, melibatkan aparat gabungan. Pencarian ini dilakukan secara bertahap dan melibatkan berbagai pihak. “Jadi tidak ada kemudian sabotase, tidak ada. Ini yang pertama harus kami tegaskan untuk menepis setiap anggapan, dugaan, asumsi atau persepsi terkait dengan sabotase,” tegas Johnny.
Johnny mengungkapkan bahwa perbedaan versi kronologi yang muncul disebabkan oleh hambatan geografis dan keterbatasan alat komunikasi. Hal ini menyebabkan informasi yang diterima seringkali simpang siur. “Kita pahami bersama bahwa kondisi geografis di titik penindakan, jaring komunikasi dan peralatan komunikasi ini sangat terbatas, sama seperti penindakan atau operasi penegakan hukum yang kita lakukan terutama di Papua,” ujarnya.
Proses pencarian Iptu Tomi dimulai sejak 18 Desember setelah dilaporkan hanyut, dan berlangsung hingga 31 Desember. Selama periode ini, aparat TNI dan Polri telah melakukan penyisiran di lokasi kejadian, termasuk melalui udara. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil sehingga harus dihentikan sementara untuk evaluasi. Pencarian kemudian dilanjutkan pada 28 Januari hingga 3 Februari 2025. “Proses pencarian telah diupayakan secara sungguh-sungguh dan serius. Memang sampai dengan terakhir pencarian masih belum kita temukan,” jelas Johnny.
Sebelumnya, Ria Tarigan, istri Iptu Tomi, mengungkapkan adanya kejanggalan dalam proses hilangnya suaminya saat mengejar KKB pada 18 Desember 2024. Dalam Rapat bersama Komisi III DPR, Ria menyebutkan adanya tiga versi kronologi hilangnya Tomi. Ia juga menyoroti bahwa pencarian baru dilakukan keesokan harinya setelah Tomi dilaporkan hilang.
Ria mengungkapkan beberapa kejanggalan, seperti penggunaan helikopter untuk pencarian yang dibayar dengan uang pribadi keluarga, larangan bagi anggota untuk menceritakan kronologi kejadian kepada keluarga Tomi, serta ancaman mutasi bagi suami dari istri anggota yang memberikan dukungan kepada Ria di media sosial.
Kasus hilangnya Iptu Tomi S Marbun masih menyisakan banyak pertanyaan dan dugaan di kalangan keluarga. Meskipun Kapolda Papua Barat telah membantah adanya sabotase, proses pencarian yang belum membuahkan hasil menambah kompleksitas kasus ini. Diharapkan, dengan upaya yang terus dilakukan, kasus ini dapat segera menemukan titik terang dan memberikan kejelasan bagi keluarga yang ditinggalkan.





