Sejumlah remaja di Israel membuat keputusan yang mengejutkan dengan memilih penjara daripada menjalani wajib militer di Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Salah satu dari mereka adalah Itamar Greenberg, yang telah beberapa kali keluar masuk penjara selama setahun terakhir.
Greenberg telah menghabiskan total sekitar 197 hari di penjara Israel karena menolak wajib militer yang berujung pada penugasan untuk melakukan agresi di Jalur Gaza. Meskipun pengalaman tersebut tidak menyenangkan, Greenberg tetap teguh pada prinsipnya untuk menolak bertugas di IDF. Ia menegaskan akan terus menolak panggilan wajib militer di Israel, meskipun pemerintah negara tersebut menerapkan undang-undang wajib militer bagi semua warga yang berusia di atas 18 tahun.
Greenberg menjelaskan bahwa penolakannya terhadap wajib militer adalah hasil dari “puncak proses pembelajaran dan pertimbangan moral.” Ia menyatakan, “Semakin saya mempelajarinya, semakin saya sadar bahwa saya tidak mau memakai seragam yang menyimbolkan pembantaian dan penindasan.” Tanpa ragu, Greenberg menyebut agresi Israel terhadap warga Palestina sebagai genosida.
Pemerintah Israel secara konsisten membantah bahwa tindakan militer mereka terhadap warga Palestina merupakan genosida. Namun, data dari Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan bahwa lebih dari 50 ribu warga Palestina telah tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza. Greenberg menegaskan, “Ada genosida di sana. Kita tak perlu mencari alasan bagus untuk mengabaikannya.”
Greenberg menyatakan tekadnya untuk mendorong perubahan dan siap mengorbankan nyawanya demi tujuan tersebut. Meskipun sering menghadapi intimidasi dan teror, ia tidak gentar untuk menyuarakan nuraninya. Greenberg sering dicap sebagai orang Yahudi yang menyuarakan antisemitisme dan pendukung teroris.
“Orang-orang pernah menulis pesan kepada saya di Instagram dan berkata bahwa mereka akan membunuh saya, sama seperti yang dilakukan Hamas terhadap orang Israel pada 7 Oktober,” ungkap Greenberg.
Keputusan remaja seperti Greenberg untuk menolak wajib militer dan memilih penjara menunjukkan adanya pergeseran pandangan di kalangan generasi muda Israel. Mereka menantang kebijakan pemerintah dan menyoroti isu-isu moral yang lebih besar terkait konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut. Keberanian mereka untuk berdiri teguh pada prinsip meskipun menghadapi konsekuensi berat patut mendapat perhatian dan refleksi lebih lanjut dari masyarakat internasional.





