Pulau Kelapa, bagian dari gugusan Kepulauan Seribu, telah menyaksikan lonjakan ekonomi yang mencolok sejak berdirinya bank sampah di wilayah tersebut. Inisiatif ini tidak hanya membantu mengatasi permasalahan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi penduduk, terutama kaum ibu rumah tangga.
Ketua bank sampah Pulau Kelapa, Nuryanah (34), mengungkapkan bahwa banyak ibu rumah tangga kini memanfaatkan bank sampah untuk menambah penghasilan. “Biasanya, ibu rumah tangga kalau belanja minta ke suami. Sejak tahu sampah bisa menambah ekonomi, mereka jarang minta ke suami buat beli bumbu dapur,” ungkap Nuryanah
Sejak didirikan pada tahun 2019, bank sampah di Pulau Kelapa telah berhasil mengedukasi warga bahwa sampah bukan sekadar barang kotor yang harus dibuang. Warga kini menyadari bahwa sampah dapat dipilah dan dibersihkan untuk mendapatkan uang.
Nuryanah menjelaskan bahwa ada beberapa jenis sampah yang dapat disetor ke bank sampah dan ditukarkan dengan uang. Harga setiap jenis sampah bervariasi. “Botol plastik dihargai Rp 1.500 per kilogram, dan jika sudah dipilah, harganya naik menjadi Rp 2.500 per kilogram,” jelasnya.
Selain botol plastik, sampah besi dihargai sekitar Rp 2.000 per kilogram jika dijemput oleh petugas. Namun, jika warga mengantarkan langsung ke bank sampah, harganya bisa mencapai Rp 2.500 per kilogram. Sampah paling mahal adalah aluminium dengan harga Rp 7.000 per kilogram, sedangkan kardus menjadi yang termurah dengan harga Rp 500 per kilogram.
Menurut Nuryanah, sampah yang paling banyak disetor ke bank adalah gelas plastik dan kardus, mengingat banyak warga Pulau Kelapa yang memiliki usaha warung kelontong. Warga yang menyetor sampah ke bank dapat memilih untuk mengambil uang secara kontan atau menabungnya terlebih dahulu.
“Nasabah kita ada yang mau cash, ada yang ditabung juga. Biasanya, yang ditabung diambil menjelang Hari Raya Lebaran,” ujar Nuryanah. Beberapa anggota bank sampah bahkan memiliki tabungan yang mencapai Rp 500.000 dalam setahun. “Kalau Lebaran, bisa menambah buat beli baju untuk anak-anaknya,” tambahnya.
Setelah enam tahun memimpin pengelolaan bank sampah, Nuryanah terus berupaya mengembangkan inisiatif ini di Pulau Kelapa. Dengan dukungan dan partisipasi aktif dari warga, bank sampah diharapkan dapat terus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan.
Inisiatif bank sampah di Pulau Kelapa menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan sampah yang baik dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Dengan terus meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga, diharapkan bank sampah ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengatasi masalah sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.





