WFA KIAN JAMAK, KERJA DI KAFE CERMIN PERGESERAN BUDAYA PEKERJA URBAN

Redaksi RuangInfo

Perubahan pola kerja di kota-kota besar semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Kini, pemandangan orang bekerja sambil membuka laptop di kafe maupun minimarket bukan lagi hal asing, baik bagi pekerja lepas maupun karyawan yang menerapkan sistem kerja fleksibel.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai tren bekerja di ruang publik tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi digital. Akses internet yang semakin mudah serta perangkat kerja yang ringkas telah menggeser pandangan lama mengenai konsep kantor.

“Fenomena kerja di kafe ini menunjukkan perubahan struktural dalam cara kita bekerja,” ujar Rakhmat. Ia menjelaskan, kehadiran sistem kerja jarak jauh (remote work) dan tren freelancing telah memindahkan pusat aktivitas kerja dari gedung perkantoran ke berbagai ruang alternatif.

Bagi kalangan pekerja urban, kafe kerap dimaknai sebagai third space atau ruang ketiga yang memadukan unsur sosial sekaligus produktivitas. Lingkungan yang lebih santai dinilai dapat mendorong rasa bebas dan kreativitas yang belum tentu diperoleh di kantor konvensional.

Rakhmat menambahkan, fleksibilitas tersebut kini menjadi simbol individualisasi dalam dunia kerja. Pekerja memiliki kewenangan lebih besar untuk menentukan lokasi dan cara bekerja yang paling sesuai dengan kebutuhan serta preferensi pribadi.

Secara keseluruhan, maraknya tren work from anywhere (WFA) dan aktivitas bekerja di kafe mencerminkan pergeseran budaya kerja masyarakat urban yang semakin adaptif terhadap teknologi dan fleksibilitas.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *