Di tengah kepungan tembok raksasa dan deru mesin pabrik yang mendominasi cakrawala Jakarta Utara, sebuah pemandangan kontras muncul dari sisa-sisa lahan terbuka yang masih dipertahankan warga. Sebuah peternakan bebek tradisional menjadi bukti nyata ketangguhan ekonomi lokal yang mampu beradaptasi di tengah masifnya industrialisasi pada awal Maret 2026 ini. Meski dikelilingi oleh polusi suara dan kepulan asap industri, ratusan bebek tampak riuh berenang di kolam-kolam buatan yang memanfaatkan aliran air setempat. Lokasi ini bukan sekadar tempat budidaya, melainkan simbol perlawanan ruang hijau yang dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar sebagai tumpuan penghasilan utama yang menjanjikan.
Sarno (55), salah satu peternak kawakan di kawasan tersebut, menyebut peternakan ini sebagai “oase” ekonomi bagi warga usia lanjut yang sulit menembus sektor formal di perusahaan besar sekitar. Dari lahan yang dahulu merupakan rawa-rawa luas tersebut, Sarno kini mampu memanen sekitar 150 hingga 200 butir telur setiap harinya untuk memasok kebutuhan warung nasi goreng dan penjual jamu di seantero Jakarta. Kualitas telur yang dihasilkan tetap terjaga meski berada di lingkungan ekstrem, berkat penggunaan pakan alami yang dikombinasikan dengan sisa makanan bersih dari kantin-kantin pabrik. Keberhasilan ini bahkan mampu mengantarkan anak-anak para peternak menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Keberadaan ekosistem ternak di tengah kawasan industri ini turut memberikan efek domino positif bagi sektor ketenagakerjaan mikro, di mana para pemuda setempat berperan aktif dalam rantai distribusi telur ke pasar-pasar tradisional di Jakarta Utara dan Timur. Namun, tantangan besar kini membayangi kelangsungan usaha mereka seiring dengan ekspansi pabrik yang terus memakan lahan gembala yang semakin menyempit. Masalah polusi udara dan degradasi kualitas air menjadi perhatian serius yang menuntut kreativitas peternak untuk tetap menjaga kesehatan unggas mereka. Meskipun masa depan lahan tersebut tidak menentu karena ancaman pembangunan gedung baru, para peternak tetap optimis dan berkomitmen untuk terus bertahan selama sejengkal tanah masih tersedia.
Pemerintah kota setempat mulai melirik fenomena ini sebagai bagian dari potensi pertanian perkotaan (urban farming) yang mendukung ketahanan pangan lokal. Dukungan ini diharapkan dapat memberikan standarisasi kebersihan dan pengelolaan limbah yang lebih baik agar aktivitas peternakan tidak berbenturan dengan regulasi lingkungan industri. Potret peternakan bebek di Jakarta Utara ini menjadi narasi kuat tentang bagaimana masyarakat urban mampu mencari celah rezeki dan menjaga kearifan lokal di tengah himpitan modernisasi. Semangat para peternak seperti Sarno membuktikan bahwa di antara beton dan baja, selalu ada ruang bagi kehidupan tradisional untuk tetap tumbuh dan memberikan kemaslahatan bagi warga Jakarta.





