Simbol Kerukunan di Glodok: Pramono, Anies, dan Sutiyoso Tampil Kompak dalam Puncak Cap Go Meh 2026

Redaksi RuangInfo

Pemandangan langka yang menyejukkan hati mewarnai puncak perayaan Cap Go Meh di kawasan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, pada Selasa siang. Tiga tokoh besar yang memiliki jejak mendalam dalam sejarah kepemimpinan Jakarta, yakni Pramono Anung, Anies Baswedan, dan Sutiyoso, hadir bersama dalam satu panggung dengan balutan kemeja tradisional bernuansa merah khas Imlek. Kehadiran mereka di tengah ribuan warga yang memadati sepanjang Jalan Gajah Mada hingga Pancoran menjadi magnet tersendiri dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2026. Ketiganya tampak akrab bercengkerama, menunjukkan pesan kuat bahwa perbedaan latar belakang politik tidak menghalangi komitmen untuk menjaga harmoni sosial di jantung ibu kota.

Pramono Anung dalam sambutannya menekankan bahwa Jakarta adalah milik seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali, di mana tradisi Cap Go Meh kini telah bertransformasi menjadi pesta rakyat yang melintasi sekat etnis. Senada dengan hal tersebut, Anies Baswedan mengungkapkan kekagumannya terhadap daya tarik Glodok sebagai simbol akulturasi budaya yang tak lekang oleh waktu. Baginya, momen duduk bersama Bang Yos dan Pramono merupakan bukti nyata bahwa keberagaman di Jakarta justru menjadi energi pemersatu dalam menciptakan kegembiraan kolektif. Interaksi hangat para tokoh ini dengan warga yang antusias bersalaman menunjukkan sisi humanis dari dinamika kepemimpinan di Jakarta yang tetap solid dalam merawat kemajemukan.

Sutiyoso, yang akrab disapa Bang Yos, tampak sangat menikmati pertunjukan Barongsai dan Liong sembari mengenang masa kepemimpinannya saat merintis penataan kawasan Kota Tua sebagai destinasi sejarah. Dengan tawa khasnya, ia mengapresiasi kelestarian tradisi ini dan merasa bangga melihat para tokoh mau duduk bersanding demi kepentingan rakyat. Menurutnya, pemandangan kebersamaan seperti inilah yang sangat dirindukan oleh warga Jakarta, di mana para senior dan junior di dunia birokrasi mampu menunjukkan teladan persatuan di ruang publik. Kehadiran Bang Yos memberikan sentuhan historis dalam acara yang mengusung tema “Harmoni dalam Keberagaman” tersebut.

Perayaan yang berlangsung meriah ini juga dihadiri oleh jajaran pejabat Pemprov DKI Jakarta serta tokoh masyarakat Tionghoa, memberikan pesan optimis bagi persatuan warga di tengah dinamika sosial tahun 2026. Kirab budaya yang menampilkan iring-iringan joli atau tandu dewa serta berbagai atraksi seni nusantara menjadi penutup yang memukau hingga sore hari. Panitia penyelenggara menyebutkan bahwa kehadiran ketiga tokoh nasional tersebut memberikan legitimasi kuat terhadap status Glodok sebagai episentrum toleransi di Jakarta. Kegembiraan yang terpancar dari wajah ribuan penonton menjadi bukti bahwa budaya tetap menjadi jembatan terbaik untuk mempererat ikatan persaudaraan antarwarga.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *