Infrastruktur jalan di jalur protokol MT Haryono, Jakarta Selatan, kembali menuai kritik pedas setelah lubang-lubang jalan yang baru saja diperbaiki dilaporkan muncul kembali dalam hitungan hari. Fenomena “tambal sulam” yang tidak berumur panjang ini memicu keraguan publik dan pengamat kebijakan terhadap kualitas material aspal serta efektivitas metode pemeliharaan rutin yang dijalankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan pantauan pada Senin malam, 9 Maret 2026, material aspal hasil perbaikan terlihat terkelupas dan berserakan menjadi kerikil tajam di bahu jalan. Hal ini tidak hanya menunjukkan kegagalan teknis dalam proses rekatan aspal, tetapi juga menciptakan risiko ganda bagi pengendara, khususnya motor, yang harus berhadapan dengan lubang dalam sekaligus material jalan yang licin.
Para pengamat tata kota menilai bahwa kegagalan perbaikan jalan ini merupakan dampak dari pengabaian sistem drainase yang integral. Aspal jenis apa pun akan cepat tergerus jika terus-menerus terendam genangan air akibat saluran air yang tidak berfungsi optimal di sepanjang jalur Cawang menuju Pancoran. Tekanan beban kendaraan berat yang melintas di jalur utama tersebut memperburuk kondisi aspal yang pengerjaannya diduga dilakukan secara terburu-buru dan tidak memenuhi standar teknis yang ketat. Kritik pun mengarah pada perlunya penggunaan teknologi aspal porus yang lebih adaptif terhadap genangan, agar perbaikan jalan tidak sekadar menjadi proyek formalitas yang menghabiskan anggaran tanpa memberikan dampak keamanan jangka panjang bagi pengguna jalan.
Dinas Bina Marga DKI Jakarta berdalih bahwa cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi menjadi musuh utama ketahanan aspal di tengah musim hujan awal 2026 ini. Meski mengklaim telah mengikuti prosedur operasional standar, pihak dinas berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kontraktor dan tim lapangan yang bertanggung jawab di titik tersebut. Sebagai langkah darurat, otoritas berencana mengimplementasikan teknologi cold mix yang dianggap lebih fleksibel untuk penanganan jalan di tengah cuaca basah. Namun, janji evaluasi ini ditanggapi skeptis oleh masyarakat yang menuntut adanya solusi permanen ketimbang terus melakukan perbaikan darurat yang kembali hancur sesaat setelah hujan turun.
Merespons keresahan warga, DPRD DKI Jakarta mendesak adanya audit transparan terhadap proyek pemeliharaan jalan rutin guna memastikan akuntabilitas penggunaan uang pajak masyarakat. Anggota legislatif menekankan bahwa kualitas pengerjaan jalan harus sebanding dengan anggaran besar yang dialokasikan setiap tahunnya. Saat ini, warga sekitar terpaksa berinisiatif menandai lubang-lubang maut tersebut dengan pembatas plastik seadanya demi mencegah kecelakaan lebih lanjut sebelum pemerintah turun tangan secara serius. Keamanan di jalur sibuk seperti MT Haryono seharusnya menjadi prioritas utama tanpa harus menunggu jatuhnya korban jiwa akibat buruknya koordinasi infrastruktur dan pengawasan mutu pengerjaan jalan.





