Di tengah keriuhan Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, sosok Mulyono (52) berdiri sebagai representasi dari ribuan pejuang transportasi yang merelakan waktu pribadinya demi kebahagiaan orang lain. Pria asal Wonogiri ini telah mengabdikan diri selama 15 tahun sebagai sopir bus lintas Jawa, sebuah profesi yang menuntutnya untuk selalu berada di jalan raya saat jutaan orang lain justru berbondong-bondong pulang ke rumah. Bagi Mulyono, momen menjelang Lebaran bukanlah tanda untuk berkemas, melainkan awal dari tanggung jawab besar yang mengharuskannya meninggalkan anak dan istri demi mengantar para perantau ke kampung halaman. Meski rasa rindu sering kali menyergap saat malam takbiran tiba, ia mengaku telah terbiasa dan ikhlas menjalani rutinitas tahunan ini sebagai bagian dari dedikasi profesinya.
Tantangan yang dihadapi Mulyono bukan sekadar kelelahan fisik akibat durasi mengemudi yang panjang, melainkan beban mental dalam menjaga keselamatan puluhan nyawa di tengah kemacetan yang mengular. Ia menyadari bahwa ekspektasi penumpang untuk cepat sampai sering kali berbenturan dengan kondisi jalanan yang padat dan berisiko. Oleh karena itu, prinsip keamanan tetap menjadi prioritas utama yang selalu ia pegang teguh sepanjang perjalanan menembus jalur arteri maupun tol. Pesan dari keluarga di rumah menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi dirinya untuk tetap konsentrasi, karena ia memahami bahwa setiap penumpang yang dibawanya memiliki keluarga yang sedang menanti dengan penuh harap di destinasi tujuan.
Untuk menyiasati jarak dan waktu, Mulyono memanfaatkan kemajuan teknologi melalui panggilan video sebagai penawar rindu di sela-sela waktu istirahat di terminal atau rest area. Melihat wajah anak-anak melalui layar ponsel menjadi sumber energi tambahan yang ia sebut sebagai “pengisi baterai” sebelum kembali memegang kemudi. Mulyono biasanya baru bisa merasakan suasana lebaran bersama keluarganya setelah seluruh rangkaian arus balik selesai, atau sekitar dua minggu pasca-hari raya. Pola hidup seperti ini telah menjadi kesepakatan tak tertulis antara dirinya dan keluarga, yang memberikan dukungan penuh terhadap tugas mulia yang ia emban setiap tahunnya pada pertengahan Maret 2026 ini.
Pihak perusahaan otobus dan pengelola terminal turut memastikan keandalan para sopir melalui pemeriksaan medis rutin guna meminimalkan risiko kecelakaan akibat faktor kelelahan. Kisah Mulyono menjadi pengingat bagi para pemudik akan adanya sosok-sosok yang bekerja di balik layar demi kelancaran tradisi mudik di Indonesia. Setiap putaran roda bus yang ia kendalikan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan bentuk pengabdian tulus untuk menyatukan kembali keluarga-keluarga yang terpisah oleh jarak. Dengan segelas kopi hitam di tangan sebelum berangkat, Mulyono kembali bersiap menaklukkan aspal, memastikan jutaan rindu sampai ke tempat yang semestinya dengan selamat.





