Sesaat setelah kobaran api yang menghanguskan gudang palet kayu dan belasan rumah warga di Tegal Alur, Kalideres, dinyatakan padam pada Rabu sore, 18 Maret 2026, lokasi kejadian justru langsung dipadati kerumunan warga. Para pencari barang bekas tampak antusias menyisir puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah guna mengumpulkan besi, paku, sisa kawat kabel, hingga lembaran seng untuk dijual kembali ke pengepul. Meskipun asap tipis masih mengepul di beberapa titik, warga yang membawa karung dan alat seadanya tetap nekat memasuki area terdampak demi mendapatkan penghasilan tambahan. Fenomena ini menciptakan pemandangan kontras di tengah duka mendalam para korban yang baru saja kehilangan tempat tinggal mereka akibat amukan si jago merah pada pertengahan Maret ini.
Kehadiran warga pencari besi ini dilaporkan sempat menyulitkan tugas personel pemadam kebakaran yang masih melakukan prosedur pendinginan akhir di lokasi. Petugas berulang kali mengeluarkan peringatan keras agar masyarakat tidak mendekat, mengingat suhu di bawah tumpukan kayu yang terbakar masih sangat panas dan struktur sisa bangunan sangat rawan roboh. Otoritas pemadam kebakaran mengkhawatirkan adanya risiko bara api tersembunyi yang dapat membahayakan keselamatan warga yang nekat menerobos melalui jalur-jalur tikus. Kendati imbauan telah disampaikan berkali-kali, antusiasme warga untuk mengais keuntungan dari sisa musibah tersebut sulit dibendung, sehingga memicu ketegangan di area yang seharusnya menjadi zona sterilisasi petugas.
Ketegangan tidak hanya terjadi antara warga dan petugas, tetapi juga menyulut konflik dengan para korban kebakaran yang merasa keberatan atas aksi penjarahan sisa material tersebut. Para pemilik rumah yang masih dalam kondisi berduka merasa tidak nyaman karena barang-barang pribadi mereka yang hangus justru menjadi rebutan pihak luar sebelum mereka sempat menyelamatkan apa yang tersisa. Situasi yang semakin tidak kondusif ini memaksa pihak Kepolisian Sektor Kalideres untuk menambah personel pengamanan serta memperluas pemasangan garis polisi di seluruh area terdampak. Langkah tegas ini diambil untuk memastikan lokasi tetap steril guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut oleh tim Laboratorium Forensik (Labfor) dalam mengidentifikasi penyebab pasti kebakaran.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa aktivitas mencari besi di lokasi kebakaran dapat merusak atau menghilangkan barang bukti krusial yang diperlukan dalam proses olah TKP. Hingga Rabu malam, petugas terus berjaga ketat di akses masuk menuju kompleks gudang guna mencegah kerumunan warga yang lebih besar serta mengantisipasi aksi penjarahan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Sementara itu, puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal mulai menempati tenda pengungsian darurat yang didirikan oleh BPBD DKI Jakarta di lapangan terbuka terdekat. Pemerintah setempat berkomitmen untuk memberikan pengamanan maksimal di lokasi kejadian agar harta benda warga yang masih tersisa tetap terlindungi selama masa pemulihan pasca-bencana ini berlangsung.





