Wacana Sistem Satu Arah Lebak Bulus: Pakar Transportasi UI Nilai SSA Efektif Urai “Simpul Mati” di Persimpangan MRT

Redaksi RuangInfo

Pakar transportasi dari Universitas Indonesia menilai penerapan Sistem Satu Arah (SSA) di sejumlah ruas jalan strategis sekitar Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dapat menjadi solusi permanen untuk mengatasi kemacetan kronis di kawasan tersebut. Langkah ini dipandang sebagai respons teknis yang logis terhadap kajian desain jalan yang tengah digodok oleh Pemprov DKI Jakarta pada pertengahan Maret 2026. Mengingat Lebak Bulus merupakan titik temu arus kendaraan yang sangat padat dari arah Ciputat, Pondok Indah, dan Fatmawati, pola dua arah di jalur-jalur sempit dinilai sudah tidak lagi memadai. Pengamat transportasi pada Rabu petang, 18 Maret 2026, menekankan bahwa tingginya konflik arus di persimpangan sering kali menyebabkan kendaraan saling mengunci, sehingga skema satu arah yang terintegrasi diharapkan mampu membuat sirkulasi lalu lintas lebih mengalir tanpa hambatan dari arah berlawanan.

Penerapan skema SSA ini menuntut penataan ulang rute angkutan umum serta bus Transjakarta agar tidak membingungkan para pengguna jasa transportasi publik di area terminal dan stasiun. Optimasi lebar jalan yang tersedia dapat difokuskan sepenuhnya untuk mendukung laju kendaraan tanpa terganggu oleh arus seberang yang selama ini memicu stagnasi. Meski konsekuensinya jarak tempuh fisik bagi sebagian warga akan menjadi lebih jauh karena harus memutar, waktu tempuh secara keseluruhan diprediksi akan jauh lebih singkat. Penghapusan “simpul mati” di area krusial seperti depan depo MRT dan pintu masuk terminal menjadi target utama agar efisiensi pergerakan kendaraan di salah satu gerbang masuk utama Jakarta Selatan ini dapat meningkat signifikan.

Beberapa titik spesifik yang diusulkan untuk masuk dalam simulasi satu arah meliputi ruas Jalan Pasar Jumat menuju arah Lebak Bulus Raya, serta pengaturan sirkulasi di lingkar depo MRT guna menertibkan kendaraan pribadi yang kerap menurunkan penumpang di bahu jalan. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengonfirmasi bahwa usulan SSA merupakan salah satu opsi serius yang sedang dipertimbangkan dalam kajian teknis mereka. Namun, otoritas terkait menegaskan pentingnya simulasi lalu lintas yang matang dan komprehensif sebelum kebijakan tersebut diuji coba di lapangan. Hal ini dilakukan untuk mencegah potensi perpindahan titik kemacetan dari jalan utama ke ruas jalan pemukiman warga di sekitarnya yang mungkin belum siap menampung lonjakan volume kendaraan.

Respon masyarakat terhadap wacana ini terpantau beragam, di mana sebagian besar warga menyatakan setuju asalkan mampu memangkas durasi kemacetan yang biasanya memakan waktu hingga 30 menit hanya untuk melewati persimpangan. Di sisi lain, kekhawatiran mengenai aksesibilitas menuju rumah tinggal yang menjadi lebih rumit tetap menjadi catatan bagi pemerintah daerah. Hingga Rabu malam, proses pengkajian manajemen lalu lintas ini masih terus berlangsung di tingkat provinsi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Harapannya, hasil akhir dari perencanaan ini dapat memberikan solusi jangka panjang yang minim dampak negatif namun maksimal dalam mengurai kepadatan di kawasan integrasi antarmoda Lebak Bulus pada masa mendatang.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *