Dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya enam prajurit Israel dilaporkan mengakhiri hidup mereka sendiri. Kasus-kasus ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan psikologis yang berat akibat keterlibatan mereka dalam konflik berkepanjangan di Gaza dan perang di Lebanon Selatan. Berdasarkan laporan dari TRT World, investigasi yang dilakukan oleh Harian Israel Yedioth Ahronoth mengungkapkan bahwa angka bunuh diri ini mungkin lebih tinggi. Namun, pihak militer Israel belum merilis data resmi meskipun telah berjanji untuk melakukannya pada akhir tahun ini.
Menyoroti krisis kesehatan mental yang semakin meluas di kalangan militer Israel. Tentara yang terlibat dalam operasi militer di Gaza, yang telah berlangsung selama 413 hari terakhir, menghadapi tekanan psikologis yang luar biasa. Sejak 7 Oktober tahun lalu, militer Israel telah melakukan berbagai tindakan kekerasan di Gaza, termasuk pembunuhan massal, penghancuran permukiman, dan tindakan brutal lainnya terhadap warga Palestina.
Tindakan militer yang dilakukan di Gaza tidak hanya berdampak pada warga Palestina, tetapi juga meninggalkan bekas mendalam pada tentara Israel sendiri. Banyak dari mereka mengalami trauma akibat tindakan yang mereka lakukan atau saksikan. Beberapa tentara bahkan terlibat dalam perilaku sadis, seperti mengejek tahanan Palestina dengan klaim bermain sepak bola menggunakan kepala anak-anak di Gaza.
Pasukan militer Israel juga menyiarkan langsung berbagai tindakan kekerasan yang mereka lakukan, termasuk penjarahan rumah-rumah Palestina, penghancuran properti, dan pencurian barang-barang milik warga yang mengungsi. Tindakan ini menambah beban psikologis yang harus ditanggung oleh para tentara.
Krisis kesehatan mental ini telah memaksa ribuan tentara Israel mencari bantuan dari klinik kesehatan mental militer atau psikolog lapangan. Sekitar sepertiga dari mereka menunjukkan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD). Menurut penyelidikan, jumlah tentara yang mengalami trauma psikologis mungkin lebih banyak dibandingkan mereka yang menderita luka fisik akibat perang.
Para ahli yang dikutip dalam laporan tersebut menyatakan bahwa dampak penuh dari krisis kesehatan mental ini baru akan terlihat setelah operasi militer berakhir dan para tentara kembali ke kehidupan normal. Pada bulan Maret 2024, Lucian Tatsa-Laur, kepala departemen kesehatan mental militer Israel, mengungkapkan bahwa sekitar 1.700 tentara telah menerima perawatan psikologis.
Sejak pernyataan tersebut, banyak laporan baru yang menunjukkan bahwa ribuan tentara masih menderita masalah kesehatan mental akibat penempatan yang berkepanjangan di Gaza dan Lebanon selatan. Kondisi ini menyoroti perlunya perhatian serius terhadap kesehatan mental di kalangan militer, terutama bagi mereka yang terlibat dalam konflik berkepanjangan.





