Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Ipul, menegaskan bahwa Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), sangat pantas untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional. Proses pengusulan ini telah dimulai dari Jawa Timur dan kini telah sampai ke tangan Penjabat Bupati Banyumas, Iwanuddin Iskandar, untuk kemudian diproses lebih lanjut di tingkat daerah, provinsi, hingga ke Kementerian Sosial.
Menurut Gus Ipul, salah satu parameter penting untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional adalah kontribusi yang signifikan terhadap bangsa dan negara Indonesia. Oleh karena itu, proses pengusulan ini harus melalui berbagai tahapan, termasuk seminar dan diskusi yang melibatkan masyarakat.
Gus Ipul menekankan bahwa dari sisi peran dan kontribusi, almarhum Raden Mas Margono Djojohadikusumo sudah sangat layak untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Namun, ia menegaskan bahwa proses ini harus berasal dari masyarakat, bukan dari pemerintah atau pihak lain, meskipun Margono adalah kakek dari Presiden Prabowo Subianto.
Usulan ini, lanjut Gus Ipul, berasal dari Jawa Timur, bukan dari Jawa Tengah. Teman-teman dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur bersama beberapa pakar telah mengadakan diskusi dan menyampaikan hasilnya kepada pihak terkait. Proses ini harus dimulai dari tingkat kabupaten dan saat ini sedang dalam tahap kajian.
Penjabat Bupati Banyumas, Iwanuddin Iskandar, mengonfirmasi bahwa ia telah bertemu dengan Gus Ipul untuk menyampaikan usulan gelar pahlawan nasional tersebut. Menurutnya, usulan ini juga didukung oleh masyarakat dan PWI Jawa Timur. “Ini tinggal prosedurnya kami penuhi,” ujarnya.
Prosedur yang dimaksud meliputi kegiatan seminar dan meminta pandangan dari tokoh-tokoh masyarakat. Iwanuddin menambahkan bahwa animo masyarakat menjadi salah satu alasan kuat untuk mengusulkan gelar ini.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo memiliki peran penting dalam masa transisi kemerdekaan Indonesia. Selain dikenal sebagai pendiri BNI pada tahun 1946, Margono juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang didirikan tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Peran-peran ini menjadikannya salah satu tokoh ekonomi yang berpengaruh di Indonesia.
Gus Ipul memastikan bahwa tahun ini akan diadakan seminar-seminar untuk membahas lebih lanjut usulan gelar pahlawan nasional bagi Margono. Margono Djojohadikusumo, yang merupakan putra seorang asisten wedana di Banyumas, meninggal dunia pada 25 Juli 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Dawuhan, Banyumas.
Proses pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Raden Mas Margono Djojohadikusumo menunjukkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam menghargai jasa para tokoh yang telah berkontribusi besar bagi bangsa. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan usulan ini dapat segera terwujud, memberikan penghargaan yang layak bagi sosok yang telah berjasa dalam sejarah Indonesia.





