Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana ambisius untuk membangun sistem pertahanan udara yang menyerupai Iron Dome di seluruh wilayah Amerika Serikat. Rencana ini dituangkan dalam perintah eksekutif yang baru saja ditandatangani pada pekan lalu. Trump menegaskan pentingnya memiliki pertahanan yang kuat dan segera memulai pembangunan perisai pertahanan rudal canggih yang akan melindungi Amerika.
Namun, rencana ini bukanlah perkara mudah. Para pakar menilai bahwa proses pembangunan sistem pertahanan ini akan memakan waktu yang lama dan biaya yang sangat besar. Matt Korda, Direktur Asosiasi Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan AS, menyatakan bahwa biaya untuk mempertahankan wilayah AS akan sangat besar dan bisa memakan waktu puluhan tahun. Menurut Korda, dalam hal biaya, keuntungan akan lebih berpihak pada penyerang karena serangan selalu lebih murah dibandingkan pertahanan.
Carl Schuster, mantan direktur operasi di Pusat Intelijen Gabungan Komando Pasifik AS, menyoroti tantangan terbesar dari rencana pertahanan Trump adalah sistem produksi dan pengadaan di AS. Schuster mengungkapkan bahwa tingkat produksi saat ini sangat rendah dan AS telah terlelap selama lebih dari satu dekade. Selain itu, masalah ini tidak hanya terkait dengan infrastruktur manufaktur, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan produksi yang terbatas. Schuster menekankan perlunya investasi pada pabrik dan sumber daya manusia untuk mengatasi kendala ini.
Sebenarnya, AS sudah memiliki sistem pertahanan udara di Guam yang dikenal sebagai Sistem Aegis Guam. Pulau ini terletak sekitar 3.000 km dari China dan 3.379 km dari Korea Utara. Pada Desember 2024, Sistem Aegis Guam berhasil mencegat rudal balistik yang ditargetkan ke pulau tersebut untuk pertama kalinya. Michelle Atkinson, Direktur Operasi Badan Pertahanan Rudal AS (MDA), menyatakan bahwa sistem dan pasukan saat ini mampu mempertahankan ancaman rudal balistik dari Korea Utara. Namun, ancaman regional terhadap Guam, termasuk dari China, terus berkembang pesat.
AS juga menguji kemampuan pelacakan sistem Pertahanan Area Ketinggian Terminal (THAAD) untuk memperkuat sistem pertahanan di Guam. THAAD dirancang untuk menghentikan rudal yang tiba di fase terminal penerbangan, sementara Aegis melakukan intersepsi di pertengahan lintasan, di luar atmosfer Bumi. Militer AS juga menggunakan baterai rudal Patriot, yang dirancang untuk melakukan intersepsi di ketinggian yang lebih rendah, sebagai tahap akhir pertahanan Guam. Ketiga sistem ini, Aegis, THAAD, dan Patriot, pada akhirnya akan membentuk Enhanced Integrated Air and Missile Defense System (EIAMD) di Guam, memberikan pertahanan berlapis dari berbagai ancaman rudal.
Namun, jangka waktu untuk membangun pertahanan rudal Guam secara penuh diperkirakan akan memakan waktu setidaknya satu dekade. Hal ini menunjukkan tantangan besar dalam membangun sistem yang efektif melawan ancaman rudal balistik dan rudal hipersonik. Rencana ambisius Trump untuk menerapkan sistem serupa di seluruh AS akan menghadapi tantangan yang sama, baik dari segi waktu maupun biaya.
Rencana Donald Trump untuk membangun sistem pertahanan udara semacam Iron Dome di seluruh Amerika Serikat merupakan langkah ambisius yang menghadapi berbagai tantangan. Dengan biaya yang besar dan waktu yang panjang, serta kendala dalam produksi dan pengadaan, realisasi rencana ini akan membutuhkan upaya dan investasi yang signifikan. Namun, jika berhasil, sistem ini dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi Amerika Serikat dari berbagai ancaman rudal di masa depan.





