Konservasi Lingkungan di Buffer Zone Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: Upaya dan Tantangan

Redaksi RuangInfo

Menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab kolektif, termasuk masyarakat. Salah satu area yang memerlukan perhatian khusus adalah buffer zone atau daerah penyangga di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGPP). TNGPP berfungsi sebagai hulu dari empat Daerah Aliran Sungai (DAS) besar, yaitu Citarum, Cimandiri, Cisadane, dan Ciliwung, serta menjadi sumber air bersih bagi lebih dari 30 juta penduduk di Jakarta dan Jawa Barat.

Konservasi Indonesia (KI) berkomitmen untuk menjaga ekosistem di buffer zone TNGPP, khususnya di Desa Ambarjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi. Wakil Presiden Program Konservasi Indonesia, Fitri Hasibuan, mengungkapkan bahwa meskipun TNGPP memiliki hulu dan DAS yang baik, buffer zone-nya menghadapi berbagai tantangan.

KI tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga berupaya meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa merusak alam. “Kesejahteraan pembangunan tidak hanya abu-abu, infrastruktur, tapi juga hijau juga bisa kita imbangkan,” ujar Fitri. Namun, upaya ini tidak mudah. KI menghadapi tantangan seperti kepercayaan masyarakat dan keterbatasan lahan.

Salah satu kendala utama adalah mengubah mindset masyarakat yang terbiasa dengan budaya ‘uang tanam’, di mana mereka mendapat upah untuk menanam. KI berusaha agar tanaman yang ditanam tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga memberikan dampak ekonomi. KI telah memanfaatkan sekitar 30 ribu hektar lahan untuk menanam komoditas seperti alpukat, pala, salam, janitri, dan puspa.

Rizki Mohfar dari KI Jawa Barat menjelaskan bahwa pemilihan jenis tanaman didasarkan pada kemanfaatan dan kesepakatan dengan warga desa. Misalnya, pala dipilih karena ada pabrik pengolahan di dekatnya. Pemerintah desa juga dapat memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan BUMDes.

KI menyiapkan kebun semai seluas 5.000 meter yang mampu menampung sekitar 14.000 bibit tanaman. Warga juga secara sukarela melakukan pembibitan di kebun mereka, menghasilkan lebih dari 16.000 bibit. Upaya ini mendapat respons positif dan dukungan dari warga setempat.

Dalam program ini, KI membuat nota kesepahaman dengan warga dan pemerintah desa. Warga mendukung program penanaman dan bersedia lahan mereka digunakan untuk menanam tanaman buah dan pohon kayu keras. Menariknya, warga secara sukarela menambahkan klausul sanksi jika melanggar kesepakatan, seperti mengganti tanaman yang mati atau hilang.

Selain penanaman, KI juga menjalankan program green water security dengan mengelola mata air di Desa Ambarjaya. Program ini telah memberikan manfaat bagi 26 KK atau 104 jiwa di desa tersebut.

Abah Ujang, tokoh masyarakat setempat, mengakui manfaat program KI dan pentingnya menjaga lingkungan. KI juga memberikan pelatihan kepada warga, mulai dari teknik penanaman hingga penggunaan GPS untuk menentukan titik penanaman pohon. Kepala Desa Ambarjaya, Eman Sulaeman, menyatakan dukungannya terhadap program KI yang tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga meningkatkan ekonomi masyarakat.

Upaya Konservasi Indonesia di buffer zone TNGPP menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi dapat berjalan beriringan. Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah desa, program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *