Serangan ISIS di Homs: 54 Tentara Suriah Tewas dalam Serangan Besar-besaran

Redaksi RuangInfo

Kelompok pemantau perang melaporkan bahwa ISIS telah membunuh 54 tentara Suriah yang melarikan diri saat kelompok pemberontak tersebut melancarkan serangan besar-besaran di wilayah yang dikuasai pemerintah di Provinsi Homs. Menurut laporan dari Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia, insiden ini terjadi di daerah Sukhna, di mana para tentara yang melarikan diri dari dinas militer dieksekusi di padang pasir, di tengah runtuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad.

ISIS telah menginvasi sebagian besar wilayah Suriah dan Irak sejak tahun 2014, mendeklarasikan sistem kekhalifahan dan menciptakan teror di kawasan tersebut. Meskipun ISIS telah dikalahkan secara teritorial di Suriah pada tahun 2019, beberapa kombatan yang tersisa masih melakukan perlawanan, terutama di Gurun Badia, dari pinggiran Damaskus hingga perbatasan Irak. Mereka menargetkan para loyalis pemerintah dan pejuang yang dipimpin oleh kelompok Kurdi.

Kelompok pemberontak Islam lainnya, yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS), bersama dengan faksi-faksi sekutu, melancarkan serangan kilat terhadap pasukan pemerintah pada 27 November. Serangan ini berhasil menyapu bersih sebagian besar wilayah Suriah dari kendali pemerintah dan menggulingkan kekuasaan Assad pada Minggu berikutnya. Lembaga pemantau asal Inggris, yang mengandalkan jaringan sumber di dalam Suriah, melaporkan adanya sedikit perlawanan nyata dari angkatan bersenjata negara yang kelelahan di beberapa daerah.

Menurut laporan militer Amerika Serikat, pesawat tempur AS juga menyerang lebih dari 75 target ISIS di Suriah pada hari Minggu, menghantam para pemimpin, operator, dan kamp kelompok tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyatakan bahwa ISIS akan memanfaatkan situasi yang terjadi di Suriah untuk membangun kembali kemampuannya dan menciptakan tempat berlindung yang aman. Blinken menegaskan bahwa serangan presisi yang dilakukan selama akhir pekan menunjukkan tekad AS untuk tidak membiarkan hal itu terjadi.

Pada Minggu (8/12), Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan setelah HTS memimpin upaya pemberontakan selama kurang dari dua pekan. Pasukan milisi yang dipimpin oleh HTS berhasil merebut ibu kota Damaskus dalam serangan kilat, memaksa al-Assad melarikan diri ke Rusia. Upaya penggulingan ini sebenarnya telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade lalu, dengan Suriah dilanda perang saudara selama 13 tahun akibat dominasi kekuasaan al-Assad.

Mohammed Al Bashir ditunjuk sebagai perdana menteri sementara untuk pemerintah transisi Suriah. Penunjukan ini diumumkan oleh Al Bashir sendiri dalam pernyataannya yang disiarkan di televisi Suriah pada Selasa (10/12) waktu setempat. Al Bashir diharapkan dapat memimpin Suriah menuju masa depan yang lebih stabil dan damai di tengah situasi politik yang penuh ketidakpastian.

Serangan ISIS di Provinsi Homs dan penggulingan Bashar al-Assad menandai babak baru dalam konflik berkepanjangan di Suriah. Dengan tantangan besar yang dihadapi oleh pemerintah transisi, masa depan politik dan keamanan di negara tersebut masih menjadi tanda tanya besar. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama untuk mencapai solusi damai dan mengakhiri penderitaan rakyat Suriah.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *