Ketua Umum Prabowo Mania, Immanuel Ebenezer, yang lebih dikenal dengan panggilan Noel, terlibat dalam perdebatan sengit dengan Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, mengenai utang sejarah PDIP kepada Prabowo Subianto. Perdebatan ini berpusat pada Perjanjian Batu Tulis, sebuah kesepakatan politik yang melibatkan PDIP dan Gerindra. Noel menegaskan bahwa PDIP memiliki utang sejarah kepada Prabowo, yang menurutnya telah dilunasi oleh Presiden Joko Widodo.
Dalam program Political Show CNN Indonesia, Noel menyatakan bahwa PDIP memiliki utang sejarah kepada Prabowo yang tercatat dalam Perjanjian Batu Tulis. “PDIP itu punya utang sejarah terhadap Prabowo. Yang bayar utang sejarah itu adalah Jokowi. Apa itu? Batu Tulis,” ujar Noel. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Guntur Romli, yang hadir dalam acara tersebut.
Guntur Romli menolak klaim Noel dengan tegas. Ia berpendapat bahwa Perjanjian Batu Tulis tidak dapat dilaksanakan karena munculnya Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pilpres 2014. “Itu keliru. Karena Jokowi itu lah 2014 tak bisa dilaksanakan janji itu karena Jokowi,” tegas Guntur. Ia menambahkan bahwa jika bukan karena Jokowi, PDIP mungkin akan mengusung Prabowo atau Megawati pada 2014.
Perdebatan antara Noel dan Guntur semakin memanas ketika Noel menantang argumen Guntur dengan mempertanyakan siapa yang sebenarnya berkhianat. “Lho kok karena Jokowi, berarti yang berkhianat siapa? Berarti begitu kuatnya Jokowi di PDIP begitu rendahnya PDIP di mata Jokowi,” balas Noel. Guntur kembali menegaskan bahwa kemunculan Jokowi pada Pilpres 2014 adalah faktor utama yang membuat perjanjian tersebut tidak dapat dilaksanakan.
Perjanjian Batu Tulis merupakan komitmen antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Perjanjian ini mencakup tujuh poin, salah satunya adalah kesepakatan untuk mencalonkan Megawati sebagai presiden dan Prabowo sebagai wakil presiden pada Pemilu 2009. Selain itu, Megawati juga berkomitmen untuk mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden pada Pemilu 2014.
Namun, perjanjian ini tidak terlaksana karena pada Pilpres 2014, PDIP mengusung Joko Widodo-Jusuf Kalla, sementara Prabowo maju bersama Hatta Rajasa tanpa dukungan PDIP. Pasangan Prabowo-Hatta mengalami kekalahan dari Jokowi-JK dalam pemilu tersebut.
Perdebatan antara Noel dan Guntur Romli mencerminkan ketegangan yang masih ada terkait Perjanjian Batu Tulis dan hubungan politik antara PDIP dan Gerindra. Meskipun perjanjian tersebut tidak terlaksana, dampaknya masih dirasakan dalam dinamika politik saat ini. Perdebatan ini juga menyoroti bagaimana keputusan politik masa lalu terus mempengaruhi hubungan antara tokoh-tokoh politik di Indonesia. Di tengah perbedaan pandangan ini, penting bagi semua pihak untuk terus berdialog dan mencari solusi yang konstruktif demi kepentingan bangsa.





