Seorang anak perempuan berusia 12 tahun bernama Agista di Tangerang harus mengurungkan niat melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP) akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Ayah Agista sehari-hari bekerja sebagai pemulung, sementara sang ibu mencari tambahan penghasilan dengan menerima jasa cuci pakaian dari rumah ke rumah. Penghasilan yang tidak tetap membuat kebutuhan pokok saja sulit terpenuhi, terlebih untuk membayar biaya pendaftaran dan perlengkapan sekolah.
“Penginnya sekolah, tapi Bapak enggak ada uang buat daftar,” ujar Agista saat ditemui di rumahnya di Tangerang.
Meski tidak bersekolah, Agista memiliki kemampuan melukis yang menonjol. Dalam kondisi serba terbatas, ia tetap menyalurkan bakatnya dengan menggambar menggunakan alat seadanya yang diperoleh dari barang temuan ayahnya saat memulung atau dari pemberian orang lain.
Untuk membantu perekonomian keluarga, Agista menjual hasil lukisannya seharga Rp 5.000 per lembar kepada tetangga maupun orang yang melintas di sekitar tempat tinggalnya. Uang yang diperoleh kemudian diserahkan kepada ibunya untuk membeli beras.
Kisah Agista menjadi perhatian publik setelah sebuah video yang menampilkan kemampuannya melukis dengan cepat beredar luas di media sosial.
Pemerintah daerah setempat melalui Dinas Pendidikan menyatakan akan menindaklanjuti kasus tersebut guna memastikan Agista dapat kembali bersekolah melalui program bantuan pendidikan atau beasiswa bagi warga kurang mampu.





