Ancaman Tanggul Rapuh: Warga Kembangan Bertaruh Nyawa dengan Tambalan Kain dan Plastik di Jalur Aliran Kali

Redaksi RuangInfo

Kondisi infrastruktur pengendali banjir di Kompleks Kembangan, Jakarta Barat, berada pada level yang sangat memprihatinkan setelah ditemukan banyak kebocoran pada dinding tanggul sungai. Berdasarkan pantauan pada Senin malam, 9 Maret 2026, dinding yang seharusnya menjadi benteng pelindung pemukiman tersebut justru nampak penuh dengan retakan dan celah yang menganga. Ironisnya, karena belum adanya tindakan nyata dari otoritas terkait, warga setempat terpaksa melakukan upaya penyelamatan mandiri secara darurat dengan menyumbat celah-celah tersebut menggunakan tumpukan kain bekas, karung, dan lembaran plastik seadanya. Rembesan air yang deras tetap keluar dari sela-sela tambalan tersebut setiap kali debit air kali meningkat, menciptakan rasa was-was yang mendalam bagi masyarakat yang tinggal tepat di balik struktur yang mulai rapuh tersebut.

Kebocoran sistematis pada tanggul ini disinyalir kuat menjadi pemicu utama banjir yang merendam pemukiman warga dengan ketinggian mencapai 40 hingga 60 sentimeter dalam beberapa hari terakhir. Warga mengeluhkan bahwa struktur beton tanggul saat ini sudah kehilangan integritasnya, ditandai dengan banyaknya retakan rambut yang menjalar di sepanjang dinding. Meski laporan telah dilayangkan berkali-kali ke pihak kelurahan, masyarakat merasa hanya mendapatkan janji peninjauan tanpa ada realisasi pengerjaan fisik yang konkret di lapangan. Kekhawatiran akan terjadinya banjir bandang yang lebih besar kian memuncak, mengingat cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan melanda wilayah Jakarta Barat hingga pertengahan Maret 2026 ini.

Merespons keluhan yang viral tersebut, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat mengakui bahwa kondisi tanggul di Kembangan memang sudah masuk dalam kategori kritis. Otoritas berdalih bahwa kendala anggaran dan hambatan cuaca menjadi alasan utama tertundanya perbaikan permanen yang seharusnya sudah masuk dalam daftar prioritas pemeliharaan tahun 2026. Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, Sudin SDA berjanji akan mengerahkan “pasukan biru” untuk melakukan penanganan darurat mulai Selasa pagi dengan memasang cerucuk kayu serta penguatan menggunakan kantong pasir (sandbag) yang lebih layak. Namun, langkah ini dinilai warga tidak cukup untuk memberikan rasa aman jangka panjang tanpa adanya upaya betonisasi ulang secara menyeluruh pada titik-titik yang rusak.

Hingga Senin malam, sejumlah petugas dari BPBD DKI Jakarta dan kepolisian tetap bersiaga di lokasi untuk memantau fluktuasi ketinggian air serta mengantisipasi kebutuhan evakuasi mendadak bagi warga. Beberapa area terendah di kompleks tersebut dilaporkan masih terendam genangan sisa banjir yang sulit surut akibat rembesan air tanggul yang terus mengalir. Masyarakat mendesak agar pemerintah tidak bersikap reaktif hanya saat musibah terjadi, melainkan proaktif dalam melakukan penguatan struktur sebelum bencana yang lebih fatal melanda. Kelelahan fisik dan materiil akibat rutin membersihkan lumpur setiap minggu membuat warga Kembangan menuntut solusi permanen agar fungsi tanggul kembali optimal sebagai pelindung, bukan justru menjadi sumber ancaman bagi keselamatan jiwa mereka.

TAGGED:
Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *